[CERPEN] Kisah Ana dan Pedro (Versi Far-Far Away)


Kalo dibilang menulis tanpa maksud apa-apa, itu bohong. Saya yakin setiap orang yang menulis punya maksud dalam tulisannya, baik disebutkan secara gamblang maupun disembunyikan. Begitu pula tentang cerita saya yang satu ini. Berawal dari perasaan miskin karya, disulut oleh sebuah memory yang selalu teringat kembali, sayapun memutuskan untuk menuliskannya, semoga bisa jadi pengendur rasa sesak di hati.
Ini hanya sepenggal cerita original dari negeri far-far away. So, sebaiknya anda menyiapkan mata dan hati anda jika berminat membaca cerita saya ini. Tolong jangan ada yang protes karena dalam kisah ini saya akan memilih nama Ana dan Pedro sebagai tokoh utamanya. Lucu kan??? Barusan, saat memulai menghadapi lembaran kosong ini sepintas saya teringat sebuah cerita telenovela jaman baheula dari salah satu negeri dunia bernama Meksiko. Waktu itu saya masih bersekolah di Istananya puteri salju. Judulnya Amigos kalau tidak salah. Nah, maka terbersitlah keinginan untuk mengambil nama ini sebagai dua tokoh utama dalam cerita saya ini.
Sudah saya sebutkan tadi. Saya tinggal di negeri far-far away. Begitu pula Ana dan Pedro, tepatnya di kawasan belakang istana puteri salju. Karena tokoh utamanya adalah Ana, maka saya akan menceritakan banyak tentangnya. Ana adalah sahabat saya. Ia bukan sang puteri dari kerajaan atau puteri yang sedang menunggu pangerannya. Ia hanyalah gadis biasa. Kenapa biasa? Karena semua orang menganggapnya biasa.
Ini hari kamis, biasanya saya dan Ana pergi ke bukit Peaceland untuk memetik buna Sakura. Bunga ini akan diberikan pada kerajaan untuk bahan baku kosmetik para puteri raja. Dari sanalah kami mendapatkan uang dan bisa membeli makanan. Biasanya setelah lelah memetik bunga sakura, kami akan saling bertukar cerita, tentang perasaan saya, perasaan Ana dan perasaan kita berdua.
Setelah meniti jembatan panjang yang terbuat dari rambut Rapunsel yang sudah rontok, kami akan mendaki bukit kecil. Di sanalah tempat favorit kami untuk berbagi cerita, diantara dedaunan sakura yang berguguran.
Saya terdiam saat ia mulai cerita. Tentang Pedro rupanya. Hmm, entah sudah berapa ratus kali kami membicarakannya. Tapi kali ini beda, Ana kelihatan begitu serius. Ini menyangkut perasaannya terkait perubahan sikap Pedro padanya.
Pedro yang saya kenal adalah pembuat sepatu paling indah seantero Far-far away. Saya sendiri selalu mengagumi hasil-hasil karyanya. Di hari lain selain kamis, kami memang bekerja di tempatnya. Membantu memotong bentuk sepatu sambil belajar tentang seni sepatu darinya.
Kembali pada cerita Ana. Beberapa bulan ini ia merasa Pedro semakin menjaga jarak dengannya. Itu semua membuatnya resah dan merasa bersalah. Pemuda itu sejak awal bertemu selalu terpikir dan terlintas di hatinya. Tapi ia tak tahu perasaan apa itu. Ia takut dan tak mau menerka-nerka. Ia takut ini hanya perasaannya saja, makanya ia memilih untuk mengabaikannya. Dan ketika kali ini sikap Pedro berubah—Ana merasa Pedro makin menjauh—ia mulai bertanya. Yang ia mau, keadaan kembali normal seperti dulu.
“Kalo kamu jadi saya, apa yang kamu lakukan?,” itu kata Ana mengakhiri ceritanya.
Rumit…
Itulah yang terpikirkan pertama kali sebagai jawaban dari pertanyaan Ana. Ah, ternyata ia bukan gadis biasa. Boleh saja ia biasa di hadapan semua orang, tapi jadi spesial di hati keluarga, sahabat-sahabatnya, dan ‘mungkin saja’ di hati Pedro. Untuk yang terakhir ini, adalah perasaan saya saja yang sehari-hari menyaksikan tingkah mereka. Kami berdua masih memandangi awan yang tengah tertidur denagn lelapnya sambil dibuai angin sore.
Ana selalu memikirkan banyak hal, lebih tepatnya memikirkan orang-orang terdekatnya, dan orang-orang yang peduli padanya, termasuk juga Pedro. Memang beberapa bulan ini saya merasakan perubahan yang terjadi pada sikapnya. Ini cukup membuatku resah. Saya pribadi merasa ia menjauh, padahal saya mengaguminya dan sudah menganggapnya sebagai abang sendiri. saya yang mengaguminya, selalu berharap belajar banyak darinya. Tapi kenapa lama kelamaan ia malah semakin menjauh rasanya.
Ternyata Ana pun merasakan hal yang sama. Bahkan yang Ana rasa lebih dari yang saya rasakan tentang Pedro. Perubahan sikap Pedro yang ia rasa semakin menjauh membuatnya kerap sakit kepala. Ia tak mau Pedro berpikir bahwa ia cuek dan tak peduli pada semua yang pedro lakukan, baik dari segi perhatian maupun sikap. Pedro yang sekarang seakan menjaga jarak karena sikapnya yang terlihat cuek. Ia merasa bersalah dengan sikapnya tempo hari. Mungkinkah itu yang membuat pedro menjauh?
“Ana, apakah kau percaya bahwa sebuah rasa yang sama akan TERASA diantara dua orang yang terkait, meski tak diungkapkan. Memang kita sering tak merasa cukup dengan segala perhatian yang diberikan, lalu kita menuntut penjelasan dan ketegasan,” itu yang akhirnya saya katakan padanya. Sialnya saya hanya bisa berteori. Saya tak tahu apa yang benr-benar terjadi. Lagipula, perasaan Pedro siapa yang tahu?
Ah, Pedro…
Tahukah bahwa hampir setiap hari Ana bercerita tentangmu? Hampir setiap hari kami membicarakanmu? Dari mulai rasa kagum kami akan karya sepatunya, tingkah lucunya dan apa yang ia lakukan hari ini. Tahukah di saat Ana sedih, karenamulah Ana kembali tersenyum?
Ah, Ana…
Kau selalu punya waktu dan meluangkan kepalamu untuk memikirkan semua orang, termasuk juga dia? Sayapun tak tahu pasti tentang bagaimana yang kau rasa. Sayapun tak tahu harus memberi saran seperti apa.
Jika kehadiran saya berguna, maka tetaplah di sisi saya dengan membawa rasa percaya. Mari kita berbagi untuk meringankan rasa sesak di hati. Saya tak mau janji, tapi rasanya saya akan selalu menyiapkan hati saya untuk mendengarkan semua yang dirasa. 
Saya tak mau keresahan ini menjadi sebuah akhir. Dimana perasaan bertanya-tanya dan menggantung menguras rasa bahagia. Memang kalau dipikir-pikir sepertinya konyol. Kita begitu subjektif dan selalu mengungguli perasaan kita saja. Padahal sama sekali kita tak tahu bagaimana perasaannya terhadapmu, terhadap kita.
Mungkin saja ia memang benar-benar telah jengkel pada kita tentang suatu hal yang tak kita rasa. Jika saya resah karena perubahan sikapnya membuat saya kehilangan seorang Abang, maka saya tak tahu apa yang kau rasakan tentang perubahan sikapnya padamu, Ana.
Biarkanlah saja semua berjalan seperti biasa. Meski tak bisa lagi bersikap biasa, setidaknya masih ada niatan untuk memperbaiki semuanya.
Entah dengan cara apa. Entah akan berakhir seperti apa, siapa yang tahu? Serahkan saja semuanya pada Tuhan, sang kreatif yang akan mengukir cerita di antara kita!!

***
Sumber Gambar dari Sini

Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "[CERPEN] Kisah Ana dan Pedro (Versi Far-Far Away)"

Posting Komentar