[CERPEN] Lamunan Si Tukang Becak


Langit tampak gelap seiring angin dingin yang mulai menggerayangi sekujur badan. Pasti nanti sore turun hujan lagi. Akhir-akhir ini cuaca memang sedang tak karuan seperti juga hidupku dan jalanan ini. Di salah satu sudut perempatan jalan ini aku menghabiskan waktu sejak pagi, sambil membaca koran hari ini.
Di halaman depan diberitakan mobil mahal milik pejabat tinggi negara di lempari telur busuk oleh salah seorang demonstran. Media heboh dan merasa senang. Aksi ektrim ini adalah aset bagi mereka untuk membuatnya menjadi headline. Aku hanya tersenyum sambil terus membaca. Memang berita model seperti ini banyak menarik perhatian.
Ada apa dengan masyarakat kita? Apa mereka sudah kehilangan rasa sopan santun dalam menyuarakan aspirasi dan protes mereka? Oh mungkin kurang tepat pertanyaan ini. Ada apa dengan pemimpin kita sehingga ada rakyat yang berani melakukan penghinaan seperti ini? mungkin pertanyaan itu lebih tepat.
Pertanyaan yang tak akan kuajukan pada pejabat atau pada siapapun. Bisa jadi kujawab sendiri sambil menertawakan si pejabat malang. Pastinya wibawanya terusik oleh aksi heboh ini. Entahlah, aku tak terlalu paham. Rakyat pantas protes dan menuntut kesejahteraan yang telah dijanjikan para pejabat itu saat ia kampanye minta dipilih jadi wakil rakyat. Saat janji yang diminta diabaikan, beginilah jadinya.
Mungkin aku merupakan salah satu bagian masyarakat yang tidak tahu apa-apa. Saat proses pemilihan ketua daerah tempo hari aku tak banyak ambil pusing. Karena diberi satu kaus partai, gula pasir dan beras satu kilo aku memilih calon pemimpin yang gambar fotonya ada warna serupa dengan kaus pamberian mereka.
Kubuka halaman selanjutnya. Wah, seorang mafia pajak yang sedang dalam proses pengadilan tertangkap oleh kamera wartawan berada di Bali. Sedang liburan rupanya dia. Padahal dalam pemberitaan, statusnya adalah terdakwa dan seharusnya mendekam di penjara. Enak betul dia, bisa liburan seenak udelnya, nonton pertandingan tenis pula. Katanya sih itu olahraga kesukaannya. Mungkin saja rumah tahanan yang selama ini ditempatinya hanya jadi rumah singgah, seenaknya dia bisa keluar dan masuk. Toh dia punya uang, dan uang akan menguasai segalanya. Yang menarik adalah wig (rambut palsu) yang ia kenakan, lucu, seperti milik Dora, tokoh kartun yang sering ditonton oleh anak bungsu tetangga saya.
Aku jadi teringat pada si Nacun, tetangga rumah kardusku. Sudah empat bulan ini ia mendekap di rumah tahanan karena kepergok nyopet. Sebulan lalu istrinya melahirkan, butuh botol susu dan kain gendongan. meski si Nacun menangis dan memohon pada bapak polisi yang terhormat, tetap tak bisa keluar. Masih kuingat matanya yang berair menghadapi situasi ini. Ia tak bisa melihat wajah anak pertamanya. Pasrah.
Sudahlah, kututup surat kabar hari ini dan mulai memerhatikan sekitar. Tiap hari kusaksikan banyak pergerakan. Kata tetanggaku yang seorang guru, Mobilitas istilah kerennya. Kaum intelek memang sering berbahasa yang asing dan aneh. Tapi selalu terdengar keren, dan mereka pun merasa keren pastinya. Para kaum intelek memang kerap berkata dengan egois, mentang-mentang sudah belajar di mimbar akademik, mereka seenaknya bicara hal-hal yang tidak kami mengerti. Dan kami yang sebenarnya tak paham hanya mengangguk-angguk saja. Gengsi kalau harus bertanya maksudnya apa. Sudah miskin, masa mau mengaku bego juga?
Kentut dari lubang knalpot kendaraan yang tiap hari lalu lalang menjadi nafas bagiku. Kata kebanyakan orang, asap sisa pembakaran itu adalah racun yang berbahaya. Tapi bagiku, ia seakan menjadi pengganti oksigen yang memang sudah langka di jalanan sepadat ini. sudah terbiasa.
Mobil, dari yang bagus sampai yang butut, saling berkejaran. Ditambah motor berbunyi cempreng yang seenaknya sulap salip tak mau kalah. Mereka berwarna-warni, membentuk harmonisasi warna yang indah bak penyanyi. Bisingnya jalan adalah musik kehidupan buatku dan teman-teman senasibku.
Sepanjang sisi jalan, tampak berderet kios-kios yang dijaga oleh para enci dan kokoh berkulit pucat dan bermata sipit. Mereka jelas bukan dari bangsa kami yang katanya berkulit sawo matang. Mereka para cina pendatang yang akhirnya berhasil dalam perantauan di negeri ini. Buktinya, di sepanjang jalan ini saksinya. Dalam posisi strategis, mereka mendagangkan barang-barang kebutuhan hidup dan material yang penting serta produk kesenian dalam toko grosir mereka.
Lalu dimana sang tuan rumah warga asli Indonesia. Kenyataannya, posisi mereka tak jauh beda denganku. Ada di trotoar mengisi jalan dengan menjadi pedagang eceran. Dari mulai yang dagang baso tahu, tahu gejrot, cireng goreng, basreng dan cakweh. Dari mulai yang menggunakan gerobak, sampai yang hanya mendagangkan raut menyedihkan, minta dikasihani orang-orang.
Kulihat kek Jejen terduduk lelah dengan tanggungan sekotak dagangan yang sedari tadi di panggulnya di atas bahunya yang rapuh. Ada rokok serta minuman dingin di dalamnya. Ia juga menggenggam berlapis surat kabar hari ini.
Kek Jejen sudah seperti bapak buatku. Ia sudi berbagi secuil makanan sisa tadi pagi denganku dan anak-anak yang kerap mendendangkan lagu jalanan saat lampu merah. Makin hari, gurat keriput di wajahnya makin ketara saja. Kali ini ia menoleh dan tersenyum getir padaku. Rupanya dagangannya masih bertumpuk. Tak jauh dari tempat kek Jen duduk, Beberapa anak berkumpul sambil tertawa riang. Salut karena dalam situasi tak karuan seperti ini mereka selalu bisa tersenyum. Ada sejumput bangga di hatiku.
Masih kuperhatikan. Kali ini kulihat mata mereka bebinar, begitu pula mata kek Jejen. Rupanya tiang angkuh berlampu tiga warna itu menyalakan warna merah. Artinya kendaraan berhenti dan mereka mulai beraksi. Menyodorkan apa yang mereka punya pada pengguna jalan. Dari mulai dagangan eceran sampai sodoran tangan belas kasihan. Lantunan lagu anak jalanan  tak mau ketinggalan.
***
Tik…tik…, pipiku basah. Dalam hitungan detik, rintik hujan itu makin membanyak. Kemudian memandikan jalanan dan kendaraan yang lewat. Para pengguna trotoar makin mempercepat langkahnya. Mencari tempat berlindung. Tapi Kek Jejen dan anak-anak jalanan itu masih bertahan, tak mau menyerah melawan hujan. Masih mengusik dan menyanyikan lagu jalanan, pada para pengguna jalan yang sekarang kelihatan setres.
“Permisi, mau numpang tanya, kalau jalan Pungkur ke sebelah mana?,” seorang gadis muda membuyarkan pengamatanku. Awalnya aku tak bisa melihat jelas wajahnya karena tertutupi payung warna kelabu. Namun saat kucoba menyelidik, suasana hatiku jadi berubah seperti warna payung sang gadis. Wajahnya mengingatkanku pada si sulung. Anakku yang paling cantik, berkulit putih bermuka lonjong. Gadis itu terus kuperhatikan, lalu aku segera sadar bahwa dia bukanlah anakku. Ia tak punya tahi lalat di dagu.
Sudah dua tahun anak sulungku merantau. Dia jadi pahlawan Devisa, itu kata bapak presiden dan orang-orang media. Sejak sembilan bulan kepergiannya, tak pernah ada kabar sampai hari ini. Berbagai pemberitaan media tentang penyiksaan TKI dan TKW selalu membuatku merinding. Apakah anakku jadi salah satu dari mereka? Ah, bahkan aku sangat takut memikirkannya. Aku yakin, pasti ia akan baik-baik saja di negeri kanjeng Rosululloh itu. Doaku menyertaimu nak!
“Maaf,” rupanya si gadis menunggu. Aku tersenyum dan segera menunjukan jalan. Kuceritakan padanya bahwa memang jaraknya agak jauh bila berjalan kaki dari sini. Apalagi hujan tak juga mau reda. Aku terus menatapya yang kali ini tampak berpikir. Oh, tuhan, rinduku pada si sulung rinduku makin menggunung saja. Ingin rasanya aku memeluk dan menciumnya. Tapi tetap aku harus menahan diri. Toh dia bukanlah anakku. Ia hanya seorang gadis berpayung warna kelabu.
Masih banyak yang harus kupikirkan. Masih ada tiga tanggungan nyawa yang harus kutopang seorang diri. Mereka masih sekolah untuk bekal hidup mereka saat kelak aku tiada. Lewat hujan, sebuah doa kutitipkan. Semoga si sulung selalu selamat dimanapun ia berada.
***
“Ibu, tolong antarkan saya ke sana saja, berapa ongkos becaknya?,” si gadis bertanya lagi.
“Lima ribu,” jawabku singkat seraya mempersilakan penumpang pertamaku hari ini duduk.
***
Sumber Gambar dari Sini

Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "[CERPEN] Lamunan Si Tukang Becak"

Posting Komentar