Catatan Perjalanan, 14-12-2013



04.19

Masih saja belum bisa mandiri untuk bangun pagi, tetapi menjelang shubuh hari saya harus bergegas bangun dan pergi ke kamar mandi, berwudlu tanpa mandi, shalat shubuh, kemudian segera menyiapkan diri, menjemput perjalanan yang diprediksi akan panjang. Bapakmu mengantar sampai terminal Lewi Panjang. Omong-omong soal Bapakmu, saya sungguh salut sama beliau. Menurut ceritamu, dia itu adalah bapak yang rela meninggalkan kepentingannya sendiri dan mendahulukan kepentingan anak-anaknya. Beliau tak malas menjemput anak perempuannya yang pulang bekerja larut malam. Beliau juga pernah meninggalkan pemilihan kepala sekolah karena mendadak ditelepon anak laki-lakinya yang mengalami kesulitan di tempat yang berbeda. Sungguh bapak yang keren. Seperti juga kali ini, kesediaannya mengantar kami di pagi buta ke terminal membuatnya harus dijuluki “Bapak Siaga (Siap Antar Jaga)”.

Sesampainya di Terminal, bus—entah apa namanya, saya tak memperhatikan—pertama jurusan Bandung-Bogor menanti kami. Dengan harga 50 ribu, pak sopir beserta kernetnya bersedia mengantarkan kami ke terminal Baranang Siang Bogor dengan selamat. Maksud saya, bukan dengan Pak Selamat, tapi dalam keadaan selamat. Saya tahu, kalian cukup pintar untuk memahami maksud saya, kan? —#apasih. Satu hal lagi, selintas saya berpikir, apa arti Baranang Siang itu, ya? kalau Lewi Panjang kan artinya Sungai panjang. Nah, Baranang Siang itu apakah ada artinya? Semua nama pasti memiliki arti bahkan filosofi, tapi ada juga nama yang asal-asalan ketika diberi nama. Baranang Siang artinya “bla bla bla” Siang. Hmm ... jika ada yang tahu “bla bla bla”-nya, tolong beritahu saya.

***

05.05

Becek, sepi, dan gelap, begitulah keadaannya ketika kita menerobos bus-bus yang berbaris di terminal Lewi Panjang. Akhirnya sampai juga ke barisan terdepan, di mana di sana ada bus jurusan Bandung-Bogor. Sesekali beberapa bapak-bapak menghampiri dan bertanya “Mau kemana, Teh/Neng?”. Mereka bertanya dengan menyergap dan sesekali berteriak. Tapi mereka pastinya tak bermaksud menakut-nakuti apalagi jahat. Memang begitulah rata-rata gaya bicara kenek elp atau bus. Tugas mereka mencari penumpang agar bus mereka masing-masing bisa segera penuh dan mereka bisa segera berangkat ke tujuan.

Terminal Lewi Panjang adalah tempat singgah di setiap perjalanan bagi semua orang yang datang. Tempat singgah pula bagi saya ketika melakukan perjalanan pulang pergi kampus-rumah orang tua. Terminal ini menjadi bagian dari kenangan. Di sini saya pernah tersesat. Pernah pula ditodong pengemis. Di sini, saya juga sempat membeli bakso, nasi goreng, dan batagor. Tempat singgah memang harus menyediakan mmakanan bagi mereka yang lapar. Di terminal ini, saya juga sering berjam-jam menunggu bus, atau ketinggalan bus. Terminal Lewi Panjang adalah tempat yang lelah. Tapi, ia meminta kita untuk jangan berlama-lama berada di dalamnya, karena perjalanan harus segera dilanjutkan. Jangan berlama-lama rehat karena bisa-bisa kita menemui bahaya yang tak diduga duga.

Di Terminal Lewi Panjang, saya juga beberapa kali bertemu teman-teman lama secara kebetulan. Kebetulan bertemu di bus, atau kebetulan bertemu ketika sedang menunggu bus. Kebetulan lainnya adalah, saya kerap bertemu teman yang sama di tempat-tempat itu. Terminal memang ramai, tapi kita harus berjaga, bahkan menutup pintu untuk orang asing. Terminal yang ramai pun menjadi terasa sepi dan melelahkan. Maka, keberadaan teman di situasi-situasi macam begini selalu berguna. Mereka bisa jadi penghilang sepi.

Sempat saya berpikir, mungkin hidup hanya terdiri dari dua pilihan: melakukan perjalanan, atau berdiam diri. Keduanya melelahkan, tetapi lebih baik berjalan dari pada berdiam diri. Begitukah? Tapi, kenapa sekarang saya mulai menganalisa kehidupan? Bukankah segalanya sudah ditetapkan? Maka kemudian saya berubah pikiran. Apapun konsep kehidupan yang telah digariskan Allah, pasti itu adalah yang terbaik untuk kesehatan jiwa dan raga setiap hamba. Dialah Dzat yang Mahabaik.

Ya sudahlah. Setelah beli nasi kuning untuk sarapan dan beberapa permen serta minuman, kami segera masuk bus. Perjalanan akan memakan waktu berjam-jam. Makanan dan minuman amat sangat berguna nantinya.

***

05.15

Udara dingin shubuh hari bercampur dengan angin dingin AC. Kondisi ini membuat migrain saya kumat. Kamu masih duduk kalem di sebelah saya. Dengan penampilan yang berbeda. Sekitar tiga bulan tak bertemu, banyak yang berubah dari dirimu. Sekarang kamu mulai mewarnai wajah dan penampilan dengan sentuhan yang lebih modis dan—tentu saja—cantik. Kita semua harus berubah, dan saya tak mau usil dengan perubahan penampilanmu. Bukankah wanita harus kelihatan cantik?

Kamu satu-satunya orang yang saya kenal, dan kemungkinan jadi satu-satunya orang yang akan saya ajak bicara. Kamu memang orang yang cerdas dalam mendengarkan. Selama ini, kamu juga menjadi salah satu orang yang paling sering saya ganggu dan saya ajak bicara tentang banyak hal. Tapi kali ini saya mengurungkan diri untuk memulai pembicaraan, apalagi mengeluh tentang migrain.

Kemudian saya putuskan untuk tak memulai. Kita tak mesti melulu memulai. Terkadang kita harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memulai sesuatu terhadap kita. Semua orang punya caranya sendiri, dan jangan pernah menutup pintumu. Bagaimana denganmu? Saya ingin tahu bagaimana kamu memulai obrolan dengan saya. Kamu sedang sibuk makan nasi kuning sambil main hape. Entah apa yang sedang kamu lalukan bersama benda canggih itu. Mungkin sms.an, facebook, atau apapun itu. Saya tak tahu. Tapi kamu memang seringkali anteng sendiri. Tak baik jika mengganggu.

Bangku bergetar. Mesin menderu. Bus mulai bergerak maju. Angin dingin AC di atas kepala segera saya matikan. Di sini terlalu dingin untuk memulai perjalanan panjang.

***

07.07

Daripada menahan sakit kepala, barusan saya memilih untuk tidur. Ketika terbangun, di luar sana langit sudah terang. Matahari menjalankan tugasnya dengan baik untuk menghangatkan pagi. Saya tengok ke sebelah, kamu masih menatap sambil menyentuh-nyentuh layar hape. Kelihatannya anteng, tak bisa diganggu.

Bosan rasanya tak ada yang bisa diajak bicara. Bosan pula karena terlalu lama duduk di posisi yang sama, pemandangan luar yang sama: suasana jalan tol, space yang sempit, dan perjalanan masih akan berlangsung beberapa jam lagi.

Playlist masih berputar dengan beberapa lagu dari Taylor Swift, Demi Lovato, dan sountrak film Tinker Bell: Mean, Gift of a Friend, Back to December, Magic Mirror, dll, tiba-tiba kamu memanggil sambil menyodorkan hape. Kamu memperlihatkan peta digital di layar hape. Itu tampilan google map yang menunjukkan di mana posisi kita sekarang, dan berapa jauh lagi perkiraan jarak ke lokasi tujuan. Mengesankan. Teknologi selalu membuat keajaiban-keajaiban. Saya jadi berpikir tentang peta Marauder yang diberikan si kembar Fred dan George kepada Harry Potter untuk mengetahui di mana letak orang di lokasi manapun. Bagaimana nantinya teknologi bisa membuat semua orang saling memata-matai. Maka dari itu keajaiban tak boleh dimiliki serempak oleh sembarang orang. Jika itu terjadi, keajaiban mungkin bisa jadi hal yang menyeramkan.

Seorang teman pernah menasihati, bahwa saya memang perlu belajar mendengarkan. Sekian lama bersahabat, saya rupanya terlalu abai mengamati orang-orang terdekat. Kamu selalu membicarakan hal-hal penting, dan saya terlalu sering membicarakan hal remeh-temeh. Beberapa bulan ini, memang sedih karena mengalami beberapa kegagalan dalam hidup. Sempat saya berpikir untuk  tertidur saja hingga semuanya berakhir. Merasa diri tak berguna, tak berkualitas, dan selalu gagal dalam hidup. Saya tahu, meratap dan menggerutu adalah tindakan yang salah. Tapi ketika kamu mengalami hal tersebut, butuh perjuangan yang besar untuk melawan perasaan negatif itu. Kita menjadi terlena dan tak mau bergerak. Tak ada semangat, merasa tak punya harapan. Lalu kita mulai berpikir bahwa semua orang tak mau peduli. Tak ada yang bisa memahami dan mendengarkan rasa sakit ini, apalagi menolong. Karena perasaan tertekan itu, penyakit pun mulai merambat ke hal-hal fisik. Saya merupakan satu di antaranya. Selama masa-masa ini, saya sering sakit-sakitan.    

Kejadian ini membuat saya merenung lagi. Selama ini, saya pasti terlalu angkuh. Saya juga selalu merasa hebat, padahal itu hanya perasaan saya saja. Begitulah. Saya pun mulai banyak diam dan merenung. Mungkin memang banyak hal yang mesti direnungkan, dalam prosesi pertobatan. Seperti yang sekarang saya lakukan padamu. Saya ingin diam. Saya ingin lebih mengenal orang-orang terdekat saya. Saya ingin tahu bagaimana kamu memulai. Saya ingin lebih banyak mendengar. Saya pun ingin tahu bagaimana kamu memperlakukan saya ketika saya tak memulai apa-apa.

Tak ada maksud jelek. Hanya ingin lebih banyak mendengar daripada bicara. Dan saya ingin dapat lebih banyak lagi pelajaran hidup. Jika tak dimulai, tak akan ada pembicaraan di antara kami. tak mengapa. Saya harus terlatih untuk tak memanjakan diri. terkadang rasa bosan harus dinikmati. Karena di sana ada proses perenungan.

Lihatlah di luar kaca sana. Banyak orang yang berdagang, meminta-minta, mengamen, menjadi supir, atau berada di kolong jembatan. Apa yang sedang mereka pikirkan sekarang? Lihatlah, mereka bisa tersenyum di tengah kepahitan hidup. Mereka bisa menghadapi kesulitan. Selalu ada keceriaan dari para bocah kumal yang berlarian. Bagaimana pak supir tahan berada di jalanan sepanjang hari, bulak balik antar terminal. Menghadapi panas dan hujan serta orang-orang yang bermacam-macam. Mereka, orang-orang jalanan itu adalah orang-orang yang kuat. Berpikirlah ...!

***

08.19

Sampai di terminal Baranang Siang, dan saya masih memikirkan, apakah arti dari nama Baranang Siang? Di sini cukup sepi, dan kamu terlihat agak khawatir. Naik bus Pusaka, saya sempat-sempatnya tertidur lagi. Padahal menurut kamu keadaan di bus tak membolehkan kita bersikap lengah. Maaf, saya memang ceroboh.

Satu jam melewati perjalanan, beberapa kali si bus ngetem, lalu diselang oleh para pengamen dan pedagang. Ada ibu yang mengalungkan radio mini di lehernya, bersama anaknya yang membagikan amplop, mereka mengamen menyanyikan lagu dangdut. Lagu itu bercerita tentang perempuan malang yang ditinggalkan suaminya, lalu dia meratap dan bernyanyi. Begitulah.

Lalu, ketika ngetem yang kedua, masuk pengamen dengan peralatan lengkap. Ada biola, gendang, dan seruling. Mereka bernyanyi lagunya Opick feat Amanda: Ibu.

***

09.40

Sampai di tempat tujuan. Mencari lokasi, bertanya pada bapak satpam, memasuki ruangan, registrasi, menunggu, berdiskusi, membicarakan tentang permasalahan pendidikan dengan orang-orang asing, menunggu lagi, lalu menerima hasil seleksi. Prosedur itu terasa singkat. Dan sebagaimana telah diprediksi, saya gagal lagi. Tak banyak yang perlu dijelaskan di sini. Pada intinya, saya gagal lagi ketika mencoba menjadi bagian dari pengajar di Sekolah Guru Indonesia Dompet Duafa.

Bertemu dua teman kampus, berbincang tentang kesibukan dan karier, bertanya seputar kelancaran diskusi dan proses seleksi, berbasa basi, shalat dzuhur, menunggu hujan sambil merenung sekali lagi, berbincang dengan kamu tentang kegagalan itu, dan kita pada akhirnya sadar bahwa kita terlalu kecil dan kurang cukup menanam untuk meraih apa yang kita inginkan hari ini.

Kamu bilang, bahwa terkadang kita harus pasrah menerima ketetapan Tuhan. Kita berputar-putar mencari tempat atau orang terbaik, lalu berkali-kali menghindari apa yang sudah tersedia di depan mata. Kita merasa lelah dengan pencarian yang panjang diwarnai kegagalan. Pada akhirnya, kita harus pasrah, menerima apa yang selama ini kita hindari. Karena rupanya yang kita hindari justru adalah yang terbaik untuk kita menurut Allah. Pernyataanmu itu membuat saya berpikir sekali lagi. Saya tak tahu harus menanggapinya seperti apa. Saya tak mau buru-buru menyatakan setuju atau tidak setuju. Saya  hanya tersenyum. Berpikir dan berpikir lagi.

***

Menunggu di pos satpam, berbincang tentang sekolah dan dompet dhuafa, menanyakan jalan, menanyakan tentang Cemplang, dan arti Baranang Siang. Waktu terasa singkat dengan perenungan yang panjang. Hujan reda berganti gerimis, dan kami mulai beranjak pulang karena teman yang dinanti telah datang.

***

14.14

Menunggu bus di tepi jalan diiringi gerimis yang awet. Saya, kamu, dia, temannya dia, dan temannya saya. Kami berbasa basi dan bercanda sekedarnya. Kemudian bus pun datang.

***

Mari membicarakan posisi duduk. Saya kira saya akan duduk di sebelahmu, yang duduk di bangku tengah sebelah kanan. Tapi tak bisa karena disebelahmu duduk bapak tua. Saya duduk di bangku paling belakang, bersebelahan dengan dia. Temannya dia duduk di bangku paling depan, sendirian, dan teman saya duduk di bangku tengah sebelah kiri. Kebetulan yang biasa terjadi di kendaraan umum. Tapi karena kebetulan itu, saya jadi tak tidur sepanjang perjalanan menuju Baranang Siang. Kamu tahu kan, saya selalu tidur di dalam kendaraan. Tapi kali ini tidak. Karena kebetulan itu. sepanjang jalan, terjadi perbincangan panjang dengan dia.

Saya senang bertemu teman lama. Siapa dia? Dia adalah kawan saya juga. Sekitar setahun lalu, kamu dikumpulkan bersama 10 lainnya dalam satu kelompok Kuliah Kerjanyata Mahasiswa (KKM) Tematik. Seusai ritual akademik itu terlewati selama 40 hari, kami beberapa kali bertemu secara kebetulan. Uniknya, saya bertemu dengannya di setiap momentum yang cukup penting di hidup saya. Ketika KKN, ketika ujian komprehensif, ketika sore-sore dan saya tengah kelelahan seusai daftar sidang, ketika selesai sidang, dan terakhir, saya bertemu dengannya ketika wisuda. Tak disangka, kami bertemu lagi di sini, ketika hujan terus mengguyur tanah Bogor.

Obrolan dimulai dengan komentarnya yang mengatakan bahwa dunia itu sempit. Kita telah berpencar jauh, tapi bisa kebetulan bertemu dengan orang yang itu-itu lagi. Saya balas dia dengan menyetujui komentarnya dan mengatakan bosan, karena selalu bertemu orang lama. Dia tahu, saya hanya bercanda.

Dia banyak berbicara sepanjang jalan. Sikap itu cocok dalam menghadapi saya sedang belajar untuk menjadi kalem. Jika kami sama-sama diam, mungkin perjalanan akan membosankan dan saya akan terlelap seenaknya. Kami pun mulai menceritakan beberapa hal. Tentang cerita KKN, tentang cewek dari kampung setempat yang ngecengin dia, lalu meloncat membahas tentang pengamen, ibu-ibu yang berjualan di pinggir jalan, karier, kampus, dan hal-hal lainnya. Saya tak begitu ingat selengkapnya. Ia juga mulai menanyakan beberapa hal tentang diri saya.

Ia bertanya tentang perasaan saya seusai menjadi sarjana, dan wisuda. Saya bilang, “biasa saja”. Dia pun mulai mengkritik saya. Katanya, saya itu orang yang kurang motivasi. Seharusnya saya bersemangat dan mantap menetapkan tujuan hidup. Seharusnya saya tidak menjadi mayat hidup. Seharusnya saya tak menjalani gaya hidup yang mengalir seperti air, atau seperti musim yag berganti. Saya jadi malu akan nasihat-nasihatnya. Sepakat. Seharusnya saya berani memantapkan tujuan. Tapi saya malah bersikap santai. Terima kasih atas nasihatnya. Jarang orang yang mau memberikan kritik yang jujur untuk kemajuan yang lainnya. Sekali lagi terima kasih. Komentar yang jujur itu sangat berarti dan melengkapi upaya perubahan diri yang bobrok ini.

Katanya juga, saya tak boleh banyak bercerita tentang masalah saya pada semua orang. Lalu saya jawab, bahwa saya hanya menceritakan masalah saya pada orang-orang pilihan. Apakah dia terusik karena saya sempat cerita tentang masalah saya sesekali padanya? Apakah selama ini ia terganggu? Saya tak tahu. Tapi saya punya alasan kenapa ia menjadi satu dari sedikit pilihan. Dia adalah orang yang bisa dipercaya, dan pikirannya logis. Bahkan, permasalahan yang tidak pernah saya ceritakan kepada kamu, malah saya ceritakan kepadanya. Saya hanya ingin berbagi sedikit beban, agar hati saya lega. Egois bukan? Jadi ketika saya cerita, cukup dengarkan saja. jika malas memberi nasihat, segera lupakan apa yang barusan saya ceritakan.

Tapi saya berniat menuruti nasihatnya. Saya akan belajar untuk tutup mulut. Mengendalikan hati dari nafsu bercerita banyak hal kepada orang-orang tertentu. Seperti nasihatnya, kita punya Tuhan yang menjadi satu-satunya tempat mengadu.

***

Dia menanyakan bagaimana pandangan saya terhadap dirinya ketika masih di tempat KKN dan setelah KKN. Saya termenung. Seharusnya saya menjawab dengan lancar. Tetapi saya hanya diam pada awalnya. Bagaimana bisa saya tak mengetahui keadaan orang-orang di sekitar saya. Yang saya tahu adalah bagaimana saya mengamati diri sendiri, dan sekarang, dia meminta saya menjelaskan sedikit tentang dirinya. Ini pertanyaan yang sulit. Bahkan lebih sulit dari pertanyaan-pertanyaan TOEFL yang kemarin untuk pertama kalinya saya jalani. :-p

“Saya nggak tahu,” kata saya gugup. Saya kecewa terhadap diri sendiri karena tidak bisa menilai orang-orang terdekat saya dengan baik. Saya tak tahu, apakah dia kecewa atau menganggap aneh terhadap saya, tapi saya rasa dia bersikap santai-santai saja.

“Tapi saya lebih suka kamu yang di luar KKN daripada ketika kita masih KKN.an,” kata saya spontan.

Ehh... sialnya, dia bertanya lagi.

“Kenapa?”

Lalu saya hanya geleng-geleng kepala. Mungkin alasannya karena apa yang saya katakan bahwa 40 hari KKN itu seperti menjalani cerita sinetron. Semuanya fiksi. Jikapun nyata, tidak akan seratus persen natural. Sebagian besar dibuat-buat dan karena beragam hal. Maka, saya lebih suka dia yang sekarang, yang saya rasa bisa menunjukkan diri apa adanya sebagai dirinya.

***

16.30

Apa alasan macet jalanan? Kali ini, kita bersikap konyol lagi dengan menyalahkan hujan dan malam minggu. Terminal Baranang Siang Sudah menyambut. Saya, kamu, dia, temannya dia, dan temannya saya turun dari bus, shalat ashar, mencari toilet, lalu segera masuk bus yang akan mengantar kami pulang ke Bandung. Dingin membuat saya tak bisa tidur. Maka dari itu, sepanjang jalan saya membaca buku “Guru 12 Purnama” yang tadi siang diberi oleh panitia seleksi SGI. Kebanyakan ceritanya sedih. Perjuangan para guru dan murid yang tinggal di pelosok negeri membuat batin saya miris, sekaligus malu. Merekalah orang-orang keren. Yang masih mau belajar di tengah keterbatasan fisik, maupun sarana. Mereka setia kepada pengabdian dan kebaikan, lalu saling menginspirasi satu sama lain. Betapa bahagianya saya jika bisa menjadi bagian dari mereka. Tapi semua kejadian telah digariskan. Mungkin Allah telah menetapkan cara lain untuk saya, agar bisa menyapa saudara-saudara saya yang ada di seberang sana.

***

21.10

Di dalam setiap perjalanan, selalu ada pelajaran. Maka, terima kasih kepada Allah karena telah memberikan saya kesempatan, bersama kamu, bersama kawan-kawan yang lain, untuk menempuh perjalanan panjang ini. Banyak nasihat yang harus tanggap ditangkap. Seperti Bogor, Lewi Panjang ikutan hujan. Kita pun pulang dengan sejuta perenungan.

Sumber Gambar dari Sini

Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "Catatan Perjalanan, 14-12-2013"

Posting Komentar