[CERPEN] Pulang Bersama Senja

Sumber Gambar dari Sini
Nanda, musim semi akan datang sebentar lagi. Lihatlah, kuncup bunga di taman ini mulai bermunculan, menjanjikan kembang-kembang yang menawan. Kita seharusnya mempersiapkan diri untuk pergi bersama-sama memetik bunga, lalu berburu kupu-kupu liar yang sayapnya berwarna-warni. 


Tak perlu cemas akan pulang terlambat, sebab senja akan menjemput kita ketika lelah. Kamu juga tak perlu khawatir akan pulang dengan kondisi lelah, sebab aku berniat mengakhiri permainan ini dengan mengajakmu duduk berdampingan di tepi danau yang airnya tenang. Setelah itu, aku akan mengantarmu pulang sebelum matahari tenggelam.

Nanda, Ingatkah saat kita pertama kali bertemu? Kala itu kamu masih berusia lima dan rambutnya dikuncir dua. Aku mendapatimu menangis setelah jatuh dari sepeda. Lututmu robek dan mengeluarkan darah segar terus-menerus. Aku yang sedang asyik menggembala kambing segera berlari menujumu, berusaha menghentikan tangismu sembari menutup lupa di lututmu.  

Setelah kejadian itu, kamu seperti buntut atau mungkin bayanganku. Kamu selalu menempel dan bergantung padaku. Hingga waktu berlalu bertahun-tahun kemudian dan kita sama-sama beranjak dewasa. Perasaan sayang itu berganti menjadi cinta. Orang-orang pikir kamulah yang membutuhkanku.

Padahal akulah yang membutuhkanmu untuk selalu bergantung padaku. Jika kamu menjadi mandiri suatu hari nanti, hatiku pasti tak akan rela karena sejak awal dan sampai kapanpun, hanya akulah yang harusnya jadi tempat segala pengharapanmu.

Tapi perasaan malu melarangku berlaku jujur mengungkapkan rasa cinta itu. Hari-hari kita jalani dengan biasa-biasa saja. Kamu yang tadinya banyak bertanya tentang khayalan-khayalan konyol, kini berganti topik menjadi ala-ala remaja yang baru beranjak dewasa. Kamu mulai menggunakan istilah “Gebetan”, “Galau” dan “Baper”. Pertanyaan-pertanyaamu kujawab seenaknya dengan melontarkan lagi kisah tentang para bidadari.

Hingga suatu hari kamu melontarkan hal yang membuatku terpukul sekaligus penasaran. Kurasa saat itulah awal perpisahan kita dimulai.

“Berhentilah bercerita. Aku bukanlah seorang bocah yang terus-menerus bisa kau bohongi. Negeri bidadari adalah mimpi.” itu katamu kala itu, Nanda. Kamu bilang begitu sambil menangis, membuat hatiku tersentak, tersayat, luka.

“Bisakah kau menjadikanku bidadari seperti yang kau ceritakan? Yang tak pernah pakai topeng kebusukan? Mengapa pula di sana tak ada usik prasangka dan kesepian? Begitu bahagianya menjadi bidadari, begitu ringannya berbohong selama bertahun-tahun,” katamu lagi.

Nanda, kau tak tahu bahwa saat itu mulutku tiba-tiba terkunci. Cerita-ceritaku selama ini rupanya membuatmu terus menumpuk tanya dari hari ke hari. Membuatmu makin benci karena memendam iri pada sang bidadari. Aku tak bermaksud begitu. Niat baik terlalu sering disalahartikan. Tapi aku mencintaimu dengan tulus. Maka dari itu, sama sekali aku tak berniat untuk marah karena kamu menganggapku seorang pembohong.

Setiap orang punya sisi gelap dan terang. Kuanggap itu adalah salah satu sisi gelapmu, yang harus kuterima sebagai konsekuensi dari rasa cinta ini. Kebanyakan dari kita bersmbunyi dan memakai topeng. Aku, kamu, dan semua orang, menampilkan diri sebagai orang yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung. Lalu apa salahnya pakai topeng? Toh kita bukanlah malaikat. Sisi gelapmu, biarlah kutelan sendiri, agar ia lenyap melewati tenggorokan dan usus besarku.

Maka Nanda, dengarlah! Kali ini aku akan menyampaikan sebuah rahasia padamu. Rahasia bahwa bangsa manusia bisa menjelma menjadi bidadari yang sempurna dengan menempuh beberapa tahapan.

Inilah langkah pertamanya, yaitu melenyapkan sisi gelap. Maka inilah yang kulakukan. Dengan mengambil sisi gelapmu, aku telah memulai langkah dalam rangka menjelmakanmu menjadi seorang bidadari.

Sayangnya, setelah ini aku harus pergi meninggalkanmu. Aku akan mencari sang ratu bidadari dan menanyakan langkah selanjutnya. Aku berjanji tak akan pergi terlalu lama. Pesanku Nanda, jangan terlalu cepat menyerah. Meski tak beruntung karena tak dilahirkan sebagai bidadari, tak perlu takut dengan semua prasangka itu.

Jelas saja, kamu bukan siluman mimpi atau sang pengendali pikiran. Biarkanlah semua orang berpikir apapun tentangmu. Itu tandanya kamu diperhatikan. Kenapa pula merasa sendiri? Apa kau meragukan kesetiaanku? Percayakah, bahwa aku akan selalu ada mendampingimu.

***

Nanda, setelah kuutarakan rahasia yang tak lengkap itu, mengapa kau masih bermuram durja? Kamu melulu memandangi bebatuan bisu dari balik jendela? Tidakkah kau senang dengan kepergianku?

Setiap orang datang dan pergi dengan caranya masing-masing. Tak perlu banyak menuntut, karena kita bukanlah pemegang kekuasaan mutlak. Lagipula, bukankah kau tak percaya lagi padaku?

Ini sudah kali ke tujuh sejak musim semi berlalu. Tuan ratu bidadari terlalu pelit untuk memberitahu. Katanya, ini rahasia langit. Saat itu aku terus memohon padanya, dan dia marah lantas mengusirku. Dengan segenap harapan yang masih tersisa, aku kembali. Mencari Nanda kekasihku, tapi tak punya nyali untuk bertemu lagi. Malu. Mulai merasa ragu atas apa yang selama ini kulakukan. Perjalananku mungkinkah hanya sia-sia belaka?

Suatu hari sepulang dari perjalanan bertemu ratu bidadari, aku memberanikan diri untuk mengajakmu pulang ke taman kita. tapi apa yang kudapatkan. Kau seenaknya marah dan mengusirku. Kau bilang jengkel atas kelakuanku yang mempertanyakan sikap dan tingkah lakumu. Nanda, salahkah jika aku bertanya, mengapa melakukan ini dan itu? Aku hanya berusaha memperhatikanmu. Kau tak seharusnya jengah dengan janji-janjiku. Kenapa pula menuntut pemenuhan janji. Tidakkah kau hargai proses dan perjuangan atas nama cinta ini?

Aku tak akan menangis karena penolakanmu, Nanda. Saat kau bilang tak mau ikut bersamaku memetik bunga dan menyambut musim semi. Sekarang kau sama seperti semua orang, tak melihat kuncup-kuncup yang tengah bersiap mekar menjadi bunga. “Musim semi  adalah sebuah kemustahilan,” katamu.

Cinta memang melelahkan. Saat aku pergi untuk cintaku, dalam perjalanan menemui ratu bidadari, akhirnya malah tak menghasilkan apapun. Yang tersisa hanya ucapan selamat tinggal pada kenangan darimu. Bodohnya, kuputuskan melewati hari dengan penggerutuan tentangmu. Aku sadar, selama kebersamaan yang kita jalani dulu, aku selalu menuntutmu untuk menjadi sempurna, menjadi bidadari. Makanya aku kerap berkisah tentang bidadari-bidadari surga. Tapi sampai kapanpun kau tak akan pernah mengerti, ini semua kulakukan demi kebahagiaanmu.

Nyatanya, kau masih menjauhiku, tak percaya padaku. Tahukah, sikapmu itu telah menghancurkanku. Tapi karena aku mencintaimu dengan tulus, maka aku akan pergi dengan sebuah pesan yang harus kau yakini. Bahwa tak ada jalan untuk kembali.

Sekarang aku benar-benar akan pulang, bersama senja. Setidaknya, ia akan selalu datang dengan cahaya mega yang merona. (Sabtu malam, 10 Februari 2012, ketika langit terlihat suram akibat gerimis tadi sore).

Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "[CERPEN] Pulang Bersama Senja"

Posting Komentar