Formalitas

Sumber Gambar dari Sini

Setiap kali mendengar kata “formal” atau “formalitas”, deskripsi yang muncul di dalam pikiran ini adalah sesuatu yang serius, resmi, seragam, disiplin, baku, dan mengesankan sesuatu yang elegan serta profesional. Tapi terkadang formalitas tidak ubahnya sebuah basa-basi, kosong, tidak memiliki nilai, tidak sepenuh hati atau sekedar menggugurkan kewajiban.

Tapi saya tidak mau terburu-buru memandang negatif terhadap suatu kata dan perilaku. Mari sejenak kita tengok arti Formalitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Formalitas dalam KBBI diartikan sebagai  peraturan, tata cara, prosedur dan kebiasaan yang berlaku. 

Disadari atau tidak, sistem di masyarakat kita sudah banyak terpola dan terjangkiti budaya formalitas. Ketika seseorang akan melamar pekerjaan, misalnya. Yang pertama ditanyakan adalah kesesuaian ijazah yang dimiliki dengan kebutuhan yang disyaratkan, baik di sektor swasta maupun di berbagai intansi pemerintah. Setelah itu, barulah pengecekan nilai akademis dan keterampilan yang dibuktikan dengan berbagai sertifikat.

Ditinjau dari segi perilaku, bersalam-salaman ketika hari lebaran juga merupakan salah satu bentuk budaya formalitas. Pakai sepatu, kemeja dan celana bahan di dalam kelas juga merupakan sebuah formalitas, sebagai simbol penghormatan mimbar akademik. 

Contoh lainnya bisa kita temukan pada diktator yang pakai "topeng" bos. Mereka kerap menggunakan alibi ‘rapat’ sebagai formalitas, padahal forum baginya adalah sarana untuk menyapaikan instruksi yang harus disetujui para bawahan tanpa banyak cingcong.

Di tengah fakta bahwa momen terpenting dalam pernikahan adalah ijab Kabul, foto praweding mahal yang dilakukan para publik figur  tanah air, sampai dengan resepsi pernikahan mewah, juga merupakan praktik budaya formalitas yang dicontohkan kaum selebritas. Ini adalah salah satu penyebab mengapa budaya formalitas terus digandrungi dan dianggap wajar.

Rupanya tradisi formalitas telah mengerak bukan hanya di lingkungan masyarakat. Ia telah menjalar sejak lama ke dalam institusi pendidikan. Di kampus tempat saya belajar, misalnya, banyak kita jumpai praktik-praktik formalitas, dari yang wajar sampai yang kurang ajar.

Di antara contoh formalitas yang menyebalkan itu terjadi di awal perkuliahan. Di mana, dosen menyosialisasikan Satuan Acara Perkuliahan (SAP) yang ia rancang sambil memaparkan peraturan idealis bin objektif kepada mahasiswa agar aktif di kelas, hadir tepat waktu, komunikatif dan lain sebagainya. Sang Dosen lantas menjanjikan reword berupa nilai yang baik dan punishment untuk nilai sebaliknya, bagi mereka yang taat dan melanggar. 

Tapi pada akhir semester, tidak sedikit dosen yang mengabaikan SAP itu. Mereka rupanya tidak membuat skor dan penilaian yang akurat. Mereka hanya menilai dari absensi semata, atau bahkan memberi nilai untuk mahasiswa hanya dengan menebak-nebak saja. Pengumpulan tugas dan perhitungan absensi yang dilakukan para dosen juga telah mengakar menjadi formalitas. Yang lebih parah, menggunakan cara subjektif seperti menilai unsur kedekatan personal.

Diskusi di kelas yang seharusnya menjadi kultur akademik ajang tukar pikiran mulai dipandang sebagai formalitas. Mahasiswa dibiarkan berkoar-koar tanpa referensi, sedangkan dosennya malah ngopi sambil ngerokok di ruang dosen. Atau jikapun tetap stay di kelas, tidak sedikit yang sibuk sendiri dunia maya, chatting dan Facebookan misalnya. 

Dunia pendidikan menjadi terlalu fokus kepada aspek formalitas dan menafikan substansi dari pendidikan itu sendiri. Seperti orang Spanyol bilang ‘lo que importa es el informe’ artinya: yang penting laporan.

Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang dipersiapkan untuk pengajuan beasiswa juga masuk list formalitas di kampus saya. Faktanya proses penetapan penerima beasiswa mendahului seleksi prosedur. SKTM diperlukan setelah para penentu kebijakan memilih siapa saja mahasiswa yang akan dapat beasiswa.

Para pengawas UAS yang diberi mandat sebagai penanggung jawab ketertiban UAS kerap melakukan pekerjaannya sebagai formalitas belaka. Hanya mengisi absen dan membagikan soal ujian, kemudian membiarkan mahasiswa mengisi jawaban dengan berbagai cara.

Miris, budaya formalitas yang tidak wajar telah mengakar dalam lingkup kampus seakan dipandang sebagai suatu kewajaran yang dimaklumi adanya. Masalah kualitas menjadi persoalan yang tidak lagi dihiraukan. Pemikiran berorientasi materi berkembang cepat menyebabkan nilai dapat dibeli.

Menyebutkan hal-hal formalitas yang kurang ajar ini, saya pada akhirnya cuma bisa lelah sendiri. Saya lantas khawatir, jangan-jangan sistem formalitas ini akan menggiring kami, para mahasiswa, menjadi pada sarjana yang haus gelar, dan menggunakan segala cara untuk mendapatkan gelar formal akademik itu. 

Pada akhirnya, tulisan ini saya tutup dengan kontemplasi diiringi harapan, semoga kita yang masih waras masih bisa bersikap bijak dan memaklumi keberadaan budaya formalitas, semenyebalkan apapun itu. Semoga kita juga jangan terlena dan latah dengan sikap formalitas yang kebablasan. Mari besopan santun dengan tetap bersetia kepada kebaikan. []Sonia Fitri

Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "Formalitas"

Posting Komentar