Teruntuk Setan-Setan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (Duka untuk Haringga Sirila)

Sumber Gambar dari Sini
Jika perubahan manusia menjadi superman, spiderman atau wonderwomen itu menyenangkan dan dinantikan, bagaimanakah perasaanmu ketika melihat seorang, bahkan sekelompok orang berubah menjadi setan yang berkelakuan seperti anjing gila?

Entah bagaimana perasaanmu, mungkin serupa dengan saya. Di mana, ketika menyaksikan perubahan manusia menjadi setan, rasanya sungguh membuat lelah campur marah. Tubuh refleks gemetar, bukan karena takut, tapi geram. Itu pasti akibat hati yang luka dan kecewa karena menyesali keberadaan manusia-manusia yang rela jadi setan, lalu melakukan aksi setan sehingga merenggut satu nama: Haringga Sirila.

Ah, ingin rasanya menyerapah. Tapi apalah daya, Emak Bapak saya tak pernah mengajari, sehingga saya jadi tak terampil berlaku begitu.

Kamu tahu saya sedang membicarakan apa, bukan? Tulisan muram ini disulut peristiwa biadab pada Ahad, 23 September 2018 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Terjadi pengeroyokan oleh sejumlah makhluk—saya bahkan tak sudi menyebut mereka manusia—yang menyebut dirinya “Viking”, terhadap pemuda berusia 23 yang dianggap sebagai musuh bebuyutan mereka, hingga berujung kematian.

Sirila dikepung, dipukul, ditendang, ditusuk, dibanting sembari diserapahi. Setan-setan itu tampaknya begitu menikmati kekuatan dan kejayaannya. Mereka saling berbagi tugas. Ada yang berperan jadi jagoan di barisan paling depan. Merekalah yang secara langsung menyakiti tubuh Sirila.

Setan-setan lainnya ada di barisan belakang, bercampur dengan manusia-manusia pengecut yang terampil menyekap nurani. Saya bertanya-tanya, mengapa tak ada satu pun yang membela, atau setidaknya lari dan lapor polisi. Mengapa mereka hanya terdiam sembari anteng membuat video penyiksaan.

Merekalah kerumunan setan campur orang. Mereka berperan sebagai penyemangat, supporter, penyerapah, atau sekadar terdiam menikmati pertunjukan. Andai saja saya ada di sana. Tapi saya tak di sana. Tapi semua sudah terjadi dan menjelma tragedi.  

Sirila bersimbah darah. Sirila tak sempat melarikan diri, apalagi membela diri. Kala itu matahari sedang bersinar terik. Tapi bahkan matahari pun menatap pilu menyaksikan segerombolan makhluk yang kesetanan itu. Dalam kesakitan akibat kebiadaban, nyawa Sirila segera diambil Tuhan. Sirila berpulang sembari masih dikerumuni, diserapahi. Saya tak melihat ada superhero di sana. Adakah superhero hanya nyata di alam khayal saja?

Sirila bukanlah yang pertama. Sebelum dia, ada sejumlah nyawa yang melayang sia-sia akibat konfilk absurd dan praktik balas dendam tak berkesudahan. Permusuhan oknum Viking dan The Jack bukanlah mitos belaka. Saya sebut oknum, sebab supporter sejati akan tetap menjadi manusia, tak sudi jadi setan. Saya sebut oknum, sebab saya percaya di luar sana, ada banyak supporter Persib maupun Persija yang masih setia memelihara nuraninya, pun masih ingin jadi manusia.

Sirila dan setan-setan itu hanyalah bagian dari sekelompok orang yang mengaku cinta pada sebuah permainan bernama sepak bola, padahal mereka sudah pasrah berkelakuan seperti anjing yang terjangkit virus rabies. Lalu mereka mengekspresikan rasa yang tak berjudul itu secara berlebihan, sehingga mereka didekap setan.

Oknum-oknum itu merasa jadi pendukung setia dari tim sepak bola daerahnya. Mereka ikut senang jika timnya menang, serta sedih dan kecewa ketika tim kesayangannya kalah oleh tim lawan. Mereka tak ragu untuk mengorbankan harta, waktu dan tenaga untuk melakukan tindakan yang dianggap sebagai dukungan. Mereka juga akan rela jika harus membunuh dan dibunuh oleh para “musuh” bebuyutan.  

Apalah saya, hanya seorang yang bukan bagian dari mereka. Saya hanya pemirsa yang tengah terluka menyaksikan peristiwa biadab yang menyesakkan dada. Teruntuk Sirila yang nyawanya telah dicabut, semoga amal kebaikannya diterima Tuhan, semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan keikhlasan.

Semoga peristiwa terbunuhnya ia, bisa menjadi cambuk bagi kita semua untuk lebih saling menjaga dan memerhatikan kewarasan diri. Dengan saling menjaga, semoga setan-setan itu tak lagi berani beraksi biadab di tanah kita untuk selama-lamanya.

  




.




Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "Teruntuk Setan-Setan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (Duka untuk Haringga Sirila)"

Posting Komentar