Yang Klasik Tetap Lebih Asyik

Sumber Gambar dari Sini

Pernyataan bahwa “media cetak akan punah di masa depan”, mungkin hanyalah sebuah mitos belaka.

Era globalisasi saat ini membawa negara ketiga termasuk Indonesia, berancang-ancang memasuki era digital secara paripurna. Salah satu contohnya, pembuatan kartu identitas semisal Kartu Tanda Penduduk (KTP) pun sudah dikonsepkan menggunakan sistem digital. Globaisasi membuat akses internet bertebaran di mana-mana sehingga kita bisa dengan mudah saling bertukar pesan apa saja lewat jari dalam hitungan detik. Layanan internet tersedia di ragam gawai, dari mulai komputer hingga ponsel pintar. 

Sambutan masyarakat terhadap era digital juga sangat kentara dengan masifnya praktik update status di Facebook, WhatsApp, Twitter, BBM dan media sosial yang lainnya. Perilaku ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat kekinian, di mana mereka bisa menuliskan apa saja di dinding-dinding maya. 

Kita senang bermain-main di jejaring maya, sebab merasa termudahkan dalam praktik pamer dan aktualisasi diri. Tapi adakah kita juga sadar bahwa keberadaan media sosial membuat silaturahim jadi sangat sederhana? Dengan hanya berhadapan dengan layar monitor saja, pertemanan bisa dilakukan tanpa bertemu. Semua serba praktis dan siap saji. Tidak perlu menguasai ilmu telepati seperti dilakukan para karuhun.

Faktanya, perkembangan teknologi dunia telah menakjubkan kita. Pada sistem online, semua orang berlomba-lomba eksis mengekspresikan diri, jejaring sosial yang beragam kemudian menawarkan diri menjadi fasilitator. Begitu pula media massanya, berlomba-lomba pula jadi penyaji informasi tercepat, paling akurat.

Anthony Giddens dalam The Third Way (199: 33-38) menjelaskan bahwa globalisasi—yang menjadi penyebab utama lahirnya jaringan internet—adalah kata yang memiliki sejarah yang menarik. Menurutnya, hal pertama yang menyebabkan timbulnya globalisasi adalah masalah ekonomi. Perluasan pasar uang dunia merupakan pemicu lainnya sehingga perubahan ke era digital ini menjadi penting. 

Bergerak dari soal ekonomi, globalisasi kemudian meliputi hampir keseluruhan kehidupan. Ia merupakan transformasi ruang dan waktu dalam kehidupan manusia yang digerakan oleh revolusi komunikasi dan teknologi informasi.

Mengutip pernyataan yang ditulis Acep Iwan Saidi dalam buku “Matinya Dunia Sastra”, kita telah menyaksikan bagaimana gerakan marxis, baik marxixme yang berharap pada kaum buruh maupun neo marxisme yang meletakkan tugasnya pada seniman dan intelektual untuk melakukan perubahan, telah tidak berdaya. Buruh, intelektual dan seniman bukan melakukan perubahan, tetapi justru terbawa oleh perubahan tersebut. Reformasi total—kata yang sejak tahun 1998 populer dalam euforia politik di Indonesia—adalah angan-angan yang tidak kesampaian.

Terkait dampak negatif dari penggunaan internet seperti makin maraknya praktik kriminal dan pronografi, ini kemungkinan besar disebabkan masyarakat kita yang belum siap alias mengalami gegar budaya. Menurut Acep, diam-diam banyak yang menyadari bahwa kapitalisme yang menjadi sekulit sedaging dengan masyarakat modern nyaris mustahil untuk dijungkirbalikkan dengan revolusi sosial sebagaimana Marx mengharapkannya. 

Kapitalisme menjadi penguasa. Semua yang dilakukan beroientasi pada keuntungan materi. Akibatnya, sikap ingin serba instan, simpel, dan praktis menjadi gaya hidup yang diidolakan. Kepraktisan memang menyenangkan. Kembali ke sistem online dan digital di atas, bahwa kita berpeluang menjadi populer dan dikenal dunia meski tak keliling dunia. 

Dengan maraknya situs berita online, kejadian yang terjadi di seberang pulau, dan seberang benua bisa kita ketahui tanpa perlu menuju ke TKP. Bisnis online menjadi , begitupula pemberitaannya. Bahkan suatu saat nanti, saya dan teman-teman komunitas anak tangga akan menjadi bagian yang mengoptialisasi fungsi online. Mungkin saja.
***
Jika dikaitkan dengan dunia jurnalistik dan pemberitaan, rupanya mereka pun tak luput dari trend online ini. Contoh yang sangat terlihat adalah dengan menjamurnya media berita online, di mana mereka menggunakan jasa internet untuk penyebaran berita. Tak lagi perlu repot-repot dicetak seperti koran atau disiarkan seperti televisi. Apapun bentuknya, media (cetak maupun online) kemudian menjadi sarana yang mengikuti arus dan pola pikir masyarakatnya.

Berita online unggul dalam kecepatan, meski kerap kecolongan dalam hal akurasi berita. Dari segi persebaran berita, online bisa diakses oleh siapapun di berbagai belahan dunia. Suatu saat nanti tidak menutup kemungkinan semua kegiatan sosialisasi bergantung pada jaringan internet.

Tapi sebuah peradaban akan lahir karena adanya dokumentasi. Karena itulah budaya tulis dan cetak hadir mengawali. Membuka kamus bahasa asing secara manual contohnya, akan berbeda rasanya dengan membuka kamus digital. Tentunya, yang digital lebih mudah, cepat dan praktis. Tapi dampak buruknya, cara praktis membuat kita malas dan tidak menghayati proses pembelajaran. Sama halnya ketika membaca koran versi cetak, lebih asyik dan tak membuat pegal mata.

Intinya, kehadiran internet dan sistem digital tak bisa menggantikan peran media cetak, meski masing-masing punya keunggulan tersendiri. Klasik itu tetap lebih asyik. Dunia baca dan dokumentasi nyata harusnya tetap diminati oleh kaum yang berperadaban. 

Maka, saya berkesimpulan bahwa pers belum akan menemui ajalnya di masa depan akibat hadirnya online. Entah dengan konvergensi atau cara apapun, saya berkesimpulan bahwa peran online tidak akan bisa menggantikan posisi dan peran media cetak karena yang klasik itu lebih asyik.[]penulis adalah mahasiswa jurusan jurnalistik semester V UIN Bandung. Ditulis pada 5 Januari 2012.

Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "Yang Klasik Tetap Lebih Asyik"

Posting Komentar