Yuk Teliti Teknis Ketika Menulis, Biar Konten Kerenmu Makin Sempurna




Selamat pagi! 

Sungguh tak bisa saya tolak rasa hati yang selalu terkesima dengan segala tulisan yang berserakan cantik di ragam blog dan website, baik itu yang serius maupun santai, yang menyemangati maupun yang galau, yang ilmiah maupun esai ringan. Bagi saya semuanya baik dan menyenangkan.

Namun sejujurnya saya beberapa kali “terganggu” dengan kesalahan-kesalahan teknis yang dilakukan penulis yang pastinya dilakukan dengan tidak sengaja. Misalnya dalam menuliskan judul, memisahkan atau menyatukan awalan di-, penggunaan huruf kapital, kata sambung dan ragam permasalahan lainnya.

Sederhananya dari tulisan ini saya ingin sedikit berbagi dari apa yang saya ketahui, diteruskan dengan berkampanye tentang pentingnya teliti dalam menulis, agar pembaca tidak terganggu dengan kesalahan-kesalahan teknis yang tidak sengaja dibuat penulis.

Di sini saya tak bermaksud nyinyir apalagi mencari-cari kesalahan orang, hanya saja sungguh disayangkan jika tulisan-tulisan dan ragam konten keren yang terabadikan di ragam media terlihat cacat teknis karena penulisannya tidak sesuai aturah baku, maupun tidak mengacu pada ejaan yang disempurnakan (EYD).   

Kenapa meributkan masalah teknis, sih, justru lebih baik sharing soal ide menulis, karena mencari konten menarik sangat sulit, bukan?

Mungkin ada dari rekan penulis yang akan berkomentar begitu. Yap, dulu saya pernah berpikir begitu. Saya merasa heran, kenapa, sih kalangan editor, redaktur, dosen hingga penulis senior sangat cerewet dengan masalah teknis kepenulisan dan EYD.

Saking mereka menganggap penting masalah teknis menulis, mereka tak akan “sudi” membaca tulisan yang kita pikir berkonten keren itu, jika menemukan kesalahan teknis semisal salah dalam penggunaan huruf capital, pemenggalan kata dan tetek-bengek teknis lainnya. Naskah itu tak akan segan-segan dibuang ke tong sampah atau dimaki-maki di depan muka kita sendiri.

Ini fakta loh! *Curhat pengalaman pribadi.

Mengapa teliti teknis tak kalah penting dari ide dan substansi? Berikut ini rangkuman penjelasannya:

Produk tulisan yang telah kita buat dan kita posting di ranah publik (nyata maupun maya), adalah serupa penampilan yang dituntut sempurna. Sebab ketika telah tersaji, kita tidak lagi punya kesempatan untuk memperbaikinya dan harus rela menerima konsekuensi dari kesalahan itu, bagaimana pun bentuknya.

Ketika penampilan itu cacat, misalnya kamu salah tulis, seharusnya “di samping” tapi kamu tulis “disamping”, itu seperti kamu pakai peci yang seharusnya dipakai di kepala, tapi malah dipasang di dengkul. Alhasil penampilan itu akan terasa ganjil, aneh, mengganggu.

Bayangkan jika tulisanmu sangat banyak salah teknis, cacat EYD di sana sini, lalu dibaca banyak orang. Seperti diketahui, posisi kita di sini sama-sama seorang pelajar yang sedang dalam masa pendidikan berbahasa. Lantas pembaca menganggap kesalahan-kesalahan itu adalah sebuah kewajaran, atau mungkin dianggap kebenaran karena reputasimu yang telah dianggap sebagai kreator konten naskah yang keren. Lalu gaya menulismu dijadikan rujukan, ditiru, kemudian terjadilah praktik kesalahan teknis dalam menulis secara sambung-menyambung dan massif.

Saya harap ini hanya kekhawatiran dan kerempongan saya belaka.

Nah, maka dari itu, langsung saya kita list ragam kesalahan teknis dalam menulis yang dianggap sepele, tapi sebenarnya bisa berakibat fatal untuk kesehatan berbahasa tulis kita di tempat keren ini:

1. Penggunaan Huruf Kapital

Teliti dan konsistenlah ketika menuliskan nama, tempat dan awal kalimat. Semuanya harus menggunakan huruf kapital. Huruf pertama setelah kutipan pun harus kapital. Mari simak contoh berikut ini:

“Aku sangat suka pada Kang Kamil, tapi cintaku bertepuk sebelah tangan,” ujar Sintia di Jakarta. Ketika itu Sintia tengah sibuk bercerita di rumah sahabatnya.    

Kata yang dicetak tebal harus diperhatikan, dan usahakan tidak terlewat untuk dikapitalkan.

Huruf kapital juga digunakan untuk penulisan judul, di mana semua huruf awalnya (kecuali untuk preposisi, konjungsi dan interjeksi) harus kapital.

Contoh: Penantian Panjang di Ujung Jalan

2. Perhatikan Spasi

Setelah tanda baca, pakai spasi. Itu kalau kita menulis pakai komputer atau mesin tik. Jika menulis manual di kertas, pakailah jarak atau jeda. Huruf-huruf pernah curhat, penempatan yang terlalu berhimpitan akan membuat gerah dan sesak. Setiap interaksi butuh jarak, agar tidak kebablasan, agar tahu kapan harus melangkah atau berpikir sejenak.

Contoh:

telah sabar laila dalam penantian dan pengorbanan,tapi majnun tak juga menyadari perasaan itu.sebaiknya Laila mundur perlahan dan membuka cerita baru. (salah)

Berikut ini perbaikannya:

Telah sabar Laila dalam penantian dan pengorbanan, tapi Majnun tak juga menyadari perasaan itu. Sebaiknya Laila mundur perlahan dan membuka cerita baru.

3. “di” Sebagai Awalan atau Kata Depan, Dipisah atau Digabung?

Nah, ini dia yang juga kerap mengganggu kesempurnaan konten tulisan. Kesalahan penggunaan “di” juga kita temukan di jalanan, di pusat perbelanjaan dan sebagainya.

Yang benar “dijual” atau “dijual”?, “di antara” atau “diantara”? Nah loh.

Pasti teman-teman sudah sama-sama tahu, kalau “di” sebagai awalan, maka penulisan dengan kata yang mengikutinya harus disatukan. Sementara jika “di” berposisi sebagai kata depan, maka harus dipisah. Untuk gampangnya, jika gabungan antara “di” dan kata yang mengikutinya bisa dibuat kata aktifnya, maka sudah pasti penulisannya harus disatukan.

Contoh:

“Di samping” penulisannya harus dipisahkan, sebab tidak ada “Mesamping”

“Dimiliki” penulisannya tidak boleh dipisah sebab bisa diaktifkan, “Memiliki”

4. Teliti Soal Penulisan Kata Baku dan Tidak Baku

Berdasarkan KBBI alias Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang benar adalah “Favorit”, bukan “Faforit”. Yang juga benar adalah “Becermin”, bukan “Bercermin”. Kata “Rapi” sesuai EYD, tapi kita sering menuliskannya “Rapih”, dan ragam kata lainnya. Milikilah KBBI untuk mendampingimu mengedit naskah, atau download aplikasi KBBI offline sehingga bisa memastikan penulisan kata yang sesuai.

***

Sebenarnya jika ingin membahas masalah teknis menulis, pembahasannya mungkin akan panjang lebar dan membutuhkan banyak uraian. Tapi saya cukupkan sekian saja. Selebihnya, mari kita menjadi editor, setidaknya untuk naskah kita sendiri. Agar ketika dipublish di mana pun, konten keren yang kita sampaikan dalam tulisan akan makin sempurna.

Saya menulis begini bukan berarti telah bebas dari cacat teknis menulis. Justru mungkin saya yang paling banyak kesalahannya. Maka dari itu, semoga tulisan ini bisa jadi alat kontrol buat diri saya sendiri, syukur-syukur bisa menambah pengetahuan untuk kita semua.

Kiranya demikian. 

Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "Yuk Teliti Teknis Ketika Menulis, Biar Konten Kerenmu Makin Sempurna"

Posting Komentar