Terpesona Ketangguhan Para Tenaga Pendidik Honorer “Zaman Now”

Sumber Gambar dari SINI


Kita semua pasti sepakat, sebutan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” sangat layak disematkan kepada orang-orang yang berprofesi sebagai guru. Tapi apakah karena hal itu, orang-orang merasa tidak perlu memberikan apresiasi dalam bentuk gaji yang wajar? Bahkan ada guru sekolah yang tidak menerima bayaran sama sekali, padahal setiap tahunnya sekolah tersebut menerima sejumlah dana bantuan dari pemerintah.

Ini kejadian fakta, dan mungkin kasus serupa telah terjadi di mana-mana. Informasi paling baru tentang kasus guru yang tidak dibayar datang dari tetangga sebelah rumah. Sebut saja namanya Neng Siti. Setelah lulus kuliah, ia ditawari mengajar di salah satu sekolah SMP yang ada di kampung sebelah. Neng Siti diminta mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Tentu saja Neng Siti menyambut tawaran itu dengan bahagia. Salah satu keinginan terbesar seorang sarjana baru adalah menunjukkan diri di masyarakat bahwa ilmu yang telah ia timba di perguruan tinggi berguna. Jadi, gaji adalah nomor dua. Yang penting dapat kerja, sebagai guru pula, sang “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. 


Sepekan, dua pekan, hingga sebulan berlalu. Neng Siti menikmati euforia menjadi seorang guru muda dengan status honorer. Ya, sejak awal bergabung sebagai guru di sekolah tersebut, Neng Siti sudah dijanjikan besaran gaji yang tak seberapa, serta jadwal mengajar di hari-hari tertentu. Neng Siti bersemangat mengajar, pasang status sedang berfoto dengan murid-muridnya yang lucu, serta sering buat status tentang kata-kata apresiasi bagi dunia pendidikan.

Pekan berganti menjadi bulan, Neng Siti tampaknya mulai merasa tidak nyaman. Apa sebab? Gajinya yang tak seberapa itu tak kunjung dibayarkan. Padahal nominalnya hanya sekitar Rp 200 ribuan per bulan. Pihak sekolah pernah mengutarakan kendala keuangan yang sedang dihadapi sembari mohon maaf karena belum bisa memberi gaji.

Neng Siti tadinya mau tetap bertahan. Ia pikir, tidak mengapa jika betulan tidak akan digaji. Ia ingin tetap mengajar dan berbagi ilmu dengan anak-anak di sekolah itu. Hitung-hitung menabung amal baik. Neng Siti maunya terus bergrilya, tapi menginjak bulan keenam, pihak sekolah memulangkan para siswa ketika jadwal Neng Siti tiba.

Ia pun merasa sedih dan menganggap sikap tersebut sebagai tindak pemecatan secara halus. Neng Siti Lantas pulang. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri keesokan harinya, dan permintaan itu segera dikabulkan oleh pihak sekolah.

Sungguh saya sedih mendengar cerita Neng Siti. Kejadian itu jadisemacam borok bagi dunia pendidikan. Di mana ketika ada guru yang bermaksud baik ingin mengajar, meski tidak dibayar, tapi maksud tersebut malah terabaikan, tertolak, sehingga menuai kekecewaan.

Saya tidak mau sok tahu, apa masalahnya sehingga pihak sekolah tidak membayarkan gaji Neng Siti hingga menginjak bulan keenam. Adakah benar-benar sekolah itu tidak sanggup membayar seorang guru? Atau mungkin uangnya ada, tapi tidak tersampaikan karena orang-orang yang tamak dengan uang recehan?

Entahlah, tidak baik berprasangka buruk. Tapi kalau pengelola keuangan itu punya nurani, setidaknya berilah Neng Siti uang bensin. Sebab jarak dari rumah Neng Siti ke sekolah itu tidak bisa dibilang dekat. Neng Siti naik sepeda motor untuk pulang pergi ke sana.


*** 

Kejadian Neng Siti benar-benar membuat hati saya miris. Mungkin kasus Neng Siti langka, tapi ini betulan fakta. Selebihnya, kebanyakan guru—terutama yang honorer—tetap dapat honor, tapi nominalnya sungguh sadis menurut saya. Mereka hanya diberi recehan setiap bulannya, dengan nominal di bawah Rp 500 ribu setelah panas dingin keluar masuk kelas untuk berbagi ilmu kepada para siswa.

Guru honorer dibayar berdasarkan jam. Bukan bermaksud menyepelekan, tapi per-jamnya hanya dihargai setara membeli semangkuk bakso. Entah untuk membayar apa nominal uang segitu. Waktu, tenaga, konsep dan perangkat mengajar, itu sepertinya tidak masuk perhitungan.

Drama Sertifikasi, Fungsional, dan Teman-Temannya

Lantas pemerintah membuat seperangkat aturan yang tampaknya bisa meningkatkan kesejahteraan guru. Dirancanglah sejumlah mekanisme agar guru berpeluang dapat “uang tambahan” misalnya dengan apa yang disebut Tunjangan Fungsional, Inpassing, Sertifikasi, dan segala macam bumbu-bumbu manis yang sungguh membuat para guru honorer jadi terkesima.


Tapi dana itu tidak dibagikan cuma-cuma. Guna mengantisipasi dana salah sasaran, sejumlah mekanisme ditetapkan. Di mana guru harus memersiapkan berkas ini dan anu, sertifikat ani, pemberkasan ane dan ano. Macam-macamlah persyaratannya, sehingga energi dan waktu guru jadi terkuras untuk mengurus persyaratan tersebut.

Fokus mereka lantas terpecah. Kelas dan murid murid segera jadi korban. Mereka sering ditinggal, terabaikan. Tapi mungkin ketika ditinggal guru, sebagian besar murid senang-senang saja. Toh di sekolah mereka tetap bisa belajar dan bermain menurut keinginan mereka masing-masing.

Ketika guru sibuk sertifikasi, para siswa berpeluang belajar berkelompok dengan teman-temannya, membaca buku di perpustakaan atau kegiatan positif lainnya. Tapi jangan lupa, mereka juga berpeluang untuk belajar pacaran, melakukan sejumlah aksi nakal, main-main di media sosial.

Ketika guru honorer zaman now sedang sibuk pemberkasan, murid-murid zaman now kehilangan kepercayaan terhadap guru. Sebab mereka memang sudah banyak belajar dan lebih percaya pada Mbah Google yang memang tahu segalanya.

Tidak. Saya tidak mau menyalahkan siapa-siapa, dan memang itu hanya buang-buang energi saja. Mungkin memang semua sudah terkondisikan jadi seperti ini, sudah berlangsung sekian lama, sudah jadi benang kusut yang sulit diurai.

Ketika situasinya masih menyedihkan seperti ini, tetap saja saya masih mau berusaha terpesona pada para tenaga pendidik honorer zaman now.


Bagaimana saya tidak terpesona. Meski mereka dibayar tak seberapa, bahkan ada yang tidak terima gaji sama sekali, tetap saja posisi tersebut diisi. Mereka tidak mau menyerah untuk terus berada di tengah-tengah dunia pendidikan yang makin memprihatinkan.

Bagaimana saya tidak terpesona. Para tenaga pendidik honorer itu juga tidak mau mundur, meski setiap hari mereka harus absen seperti orang kantoran—pakai finger print—tapi gaji yang mereka terima bahkan jauh lebih kecil ketimbang pekerja pabrik.

Bagaimana saya tidak terpesona. Mereka tidak mau berhenti pergi ke sekolah dan mengajar murid-murid dengan maksimal. Padahal ketika pengabdian itu ditempuh, mereka harus menghadapi murid-murid yang suka melawan atau bertindak kurang ajar. Mereka wajib meredam emosi, jangan sampai melakukan kekerasan fisik maupun verbal. Sebab bisa-bisa nanti dilaporkan ke polisi atas tindak kekerasan.

Bagaimana saya tidak terpana. Para tenaga pendidik honorer itu masih mau berepot-repot menyusun RPP yang bahasanya membosankan dan bertele-tele, padahal mereka juga jadi harus menyediakan waktu ekstra untuk mempersiapkan materi dan inovasi pembelajaran agar murid bisa belajar maksimal. Sungguh mereka semua itu benar-benar manusia luar biasa.

Akhir kata, kepada para guru honerer zaman now yang ketangguhannya terus teruji, khususnya yang punya hati bersih dan lurus, semoga kalian senantiasa istikomah dalam mengabdi bagi dunia pendidikan. Semenyedihkan apapun, anak-anak Indonesia butuh guru-guru yang lurus hati macam kalian, yang tetap berlaku terhormat sebagaimana layaknya seorang guru, meski melulu diperlakukan secara kurang ajar oleh sistem dan oleh lingkungan.

Tetaplah jadi seorang yang lurus hati, bukan karena kalian ingin menyombongkan diri sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, tapi ini karena kita sama-sama tahu akan sebuah fakta penting, bahwa Allah yang Maha Pengasih menjanjikan kedatangan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Sekian.

25072018


Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "Terpesona Ketangguhan Para Tenaga Pendidik Honorer “Zaman Now”"

Posting Komentar