Kepada Kita yang Gemar Mengobral Kata-Kata


Selamat malam, para penggemar kata di manapun kalian berada. Semoga ketika membaca ini, kalian semua sudah mandi dan perutnya sudah terisi. Sebab kita semua sepakat, membaca apa saja butuh kesegaran otak, pun konsentrasi tinggi, agar pesannya bisa dikunyah-kunyah dan jadi nutrisi bagi jiwa dan raga.

Terkait dengan judul yang saya sematkan di barisan paling atas, seperti kita ketahui, penulis zaman now punya banyak peluang untuk membagikan tulisannya kepada pembaca di mana pun mereka berada. Mengapa harus berbagi tulisan? Sebab proses menulis sejatinya telah didahului hasil eksplorasi ide, ada riset serta pemilihan pengalaman yang dianggap berharga.
Alhasil, bacaan butuh dibaca, sementara penulis ingin diapresiasi. Setidaknya, kita yang menulis pasti ingin orang lain bisa menangkap pesan dari tulisan kita, bukan? Sebagaimana kita yang ketika bicara, tentu ingin ada pendengarnya. 

Bagaimana cara berbagi tulisan di zaman now? 

Kita hanya perlu punya gawai, sesuatu yang hampir semua orang memilikinya. Fungsikanlah jemarimu untuk mengetik kata-kata di gawai, pun merangkainya menjadi kalimat-kalimat, paragraph, sehingga nantinya menjadi artikel yang utuh, siap disajikan kepada pembaca. Dengan berbekal gawai, kita bisa dengan segera membuat puisi dan prosa, bisa pula segera dibagikan hasil tulisannya kepada pembaca.

Coba sejenak kita membandingkan dengan penulis di zaman old. Menjadi penulis bukan suatu hal yang mudah. Hanya orang-orang langka yang bisa membuat tulisan yang dianggap layak dibagikan—baca: diterbitkan. Tulisan-tulisan tersebut, misalnya, harus bernada perjuangan atas propaganda tertentu, harus bermuatan politik serta IPTEK, serta diapresiasi oleh komunitas sastra yang mumpuni.

Bahkan, untuk pasangan kekasih yang berhubungan jarak jauh, mereka tidak bisa segera saling bertukar naskah (surat cinta). Untuk menulis selembar atau dua lembar surat untuk kekasih, penulis mempertimbangkan banyak hal semisal diksi dan rangkaian kata lainnya agar menggugah hati pembaca yang notabene kekasihnya. Setelah ditulis, surat itu tidak segera terbaca, karena harus menunggu proses pengiriman oleh Pak Pos yang prosesnya berhari-hari.
Jadi, untuk segi kecepatan bertukar pesan, bersyukurlah menjadi penulis zaman sekarang. Di mana segala proses kreatif lewat rangkaian kata-kata itu bisa dengan mudah dituliskan, kemudian dibagikan.  

Kita sudah sama-sama tahu, di masa sekarang sangat banyak bidikan pembaca, utamanya di dunia maya. Setelah tulisan dibuat, kita bisa segera berbagi hasil tulisan di status facebook, mengirim di pesan pribadi atau grup WhatsApp, serta masih banyak ragam media berbagi karya, termasuk di antaranya Wattpad, UC News, Kompasiana, Babe dan lain sebagainya.

Dalam kegiatan memproduksi dan berbagi tulisan ini, kamu tidak sendirian. Sebab di luar sana, di saat yang sama, ada penulis zaman now lainnya yang juga telah membuat tulisan dengan cepat, juga bersemangat untuk berbagi tulisan di sejumlah media maya. Demikianlah, dengan mudahnya kita saling berbagi kata-kata, mengobral kata-kata. Kita berbagi tulisan, kita juga menerima tulisan hasil share orang-orang. Kita membagi tulisan, berharap dibaca.
Orang lain pun sama, berharap kita yang dapat kiriman tulisan itu juga mengapresiasi tulisannya. Proses itu berlangsung bukan lagi dalam hitungan jam apalagi menit, melainkan detik. Kita semua saling bertukar naskah, mengobral kata-kata di mana-mana, bercampur dengan iklan komsmetik, propaganda politik, ceramah yang galak, serta banyak pesan lainnya.

Kata-kata itu berdesakan, berjejalan, mengusir jeda, membuat jengah, menjadi sesak dan akhirnya kita pun jadi lelah. Kita yang memilih untuk rajin akan berusaha memilah mana yang harus dibaca, mana yang harus diabaikan. Tapi faktanya, kebanyakan dari kita justru banyak mengabaikan kata-kata yang berseliweran itu.

Kita jadi sedikit membaca yang menurut kita perlu. Bahkan tidak jarang, naskah-naskah yang sebenarnya bagus, tapi ikut diobral, jadi ikutan terabaikan. Kita semua sama-sama tahu dan mengalami kondisi ini bukan? Kata-kata yang diobral gombal itu lalu mereka menangis, hilang faedahnya sebab hanya dibaca sambil lalu.

Lantas apakah kita masih harus melanjutkan proses pertukaran pesan yang tak efektif ini? Jika kamu bertanya kepada saya, maka jawabannya adalah, Ya. Kita masih harus tetap bertahan untuk menulis. Tolonglah untuk jangan merasa lelah untuk merangkai kata-kata, meproduksi naskah, jika niatmu tulus untuk berbagi pesan baik apa saja kepada pembaca. Jangan berhenti mendisiplinkan diri untuk menulis dan berkontemplasi setiap hari.

Sebab jika sedetik saja kamu berhenti, kata-kata buruk dan negatif akan tetap diproduksi. Jika kita menyerah, naskah-naskah yang menyebalkan dan mengandung hoax akan tetap terus beredar. Maka beginilah keberadaan kita sekarang. Di mana kita harus terap menulis konten yang baik, agar kita bisa mengimbangi naskah-naskah yang kurang baik.

Lantas kamu berkomentar, saya bukanlah penulis yang baik, pun belum bisa membuat konten bagus yang layak dibagikan. Saya mungkin hanya bagian dari orang-orang yang mengobral kata-kata sampah sekaligus curhat tak jelas. Apakah saya masih layak untuk berbagi cerita di dunia maya?

Maka kalau boleh saya menjawab, saya ingin kamu tahu bahwa kualitas tulisan saya pun sebelas duabelas dengan milikmu. Tulisan-tulisan saya pun masih tak keruan baik atau buruknya. Tapi selama kita berniat untuk berbagi dengan niat yang baik, galau dengan niat self-talk dengan diri sendiri lalu menginput kata-kata positif ke dalamnya, mungkin tulisan itu sudah masuk kategori layak untuk dibagi. Sebab ada niat baik dan muatan energi positif di sana, meski sedikit.

Akhir kata, buat kita yang gemar mengobral kata-kata, biarlah untuk saat ini kita mengobralnya di mana-mana. Meski pada akhirnya kita dapati naskah kita diabaikan—meski sudah diobral habis-habisan—tidak mengapa. Nothing to lose. Bukankah memberi itu lebih baik ketimbang menerima?

Apalagi jika pemberian itu dibarengi niat dan perilaku yang baik (tidak plagiat), pasti kita akan mendapatkan “benefit” yang selayaknya. Namun pertanyaan selanjutnya, sudahkah kita jadi bagian dari orang-orang yang istikomah bersyukur?

Penulis: Sonia Fitri, ditulis pada 24 Juli 2018


Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "Kepada Kita yang Gemar Mengobral Kata-Kata"

Posting Komentar