Hadirnya Sentimen Sekaligus Empati di Suatu Kisah Persahabatan ABG (Review Film Pure Love - 2016)

Pure_love_film 
Sumber Gambar; Wikipedia



Judul: Unforgettable/ Pure Love
Tanggal Rilis: 24 Februari 2016
Produser: Jung Moon Goo, Bang Mi Jung, Joo Pil Hoo
Sutradara: Lee Eun Hee
Penulis: Hang Chang Hoon dan Lee Eun Hee
Durasi: 113 Menit
Produksi: Little Big Pictures

***

Jika kamu seorang yang sakit, tak berdaya dan lemah, maka peluang untuk diistimewakan dan disayang akan semakin tinggi. Keadaan itu tentu saja harus diiringi sifat dan perilaku yang kalem dan manis, sehingga semua orang bisa merasa betah untuk tulus menyayangimu. Namun berhati-hatilah, mungkin curahan kasih sayang itu bisa jadi berlebihan sehingga kamu tak akan sanggup menanggungnya.

Keadaan itulah yang menimpa anak desa di pulau terpencil bernama Soo Ok (diperankan oleh Kim Soo Hyun). Diluar kendalinya, ia lahir dengan kelainan di kaki. Ia pun tumbuh sebagai anak cacat yang jalannya pincang. Soo Ok juga punya trauma masa kecil di mana ia harus kehilangan ibunya yang hilang ditelan ombak. Ayahnya pun tampaknya bukan dari keluarga tajir melitir. Buktinya ia tak bisa membiayai pengobatan kakinya Soo Ok.

Dengan kondisi kaki yang pincang, pergerakan Soo Ok juga serbaterbatas. Lingkungannya hanya di seputaran pulau yang dipenjara lautan. Situasi itu didukung oleh Ayahnya yang bahkan melarangnya pergi bersekolah ke kota di sebrang pulau karena khawatir nasib Soo Ok akan seperti istrinya yang hilang ditelan ombak.

Tapi Tuhan Maha Adil. Di tengah situasi yang tak menyenangkan itu, So Ok punya para "Peri" yang selalu mengupayakan agar segala keinginannya terkabul. Saya bilang "para", karena So Ok memiliki empat peri sekaligus. Mereka menjelma ke dalam bentuk " sahabat" yang sama-sama belia, sebaya Soo Ok, baru jadi Anak Baru Gede alias ABG. Peri-peri itu terdiri dari satu perempuan, tiga lelaki.

Mari kita urai para peri ini satu per satu. Yang perempuan bernama Gilja (Diperankan oleh Joo Da Young). Ia merupakan gadis manis yang cerewet dan blak-blakan bicaranya, tapi sebenarnya sangat perasa dan sensitif.

Peri selanjutnya adalah lelaki bertubuh gempal dan berambut keriting bernama Gaeduk (diperankan
oleh David Lee). Gaeduk seorang yang polos dan penurut, tapi sering jadi obyek omelan sang kakak yang sejatinya galak.

Selanjutnya ada San Dol (diperankan oleh Yeon Jun Suk) dan Bom Shil (diperankan oleh Do Kyung Soo). San Dol bertubuh jangkung dan atletis, bahkan terkenal sebagai pelari maraton yang andal. Ia bahkan jadi primadona di kalangan para wanita.

Sementara Bom Shill berkepribadian kalem dan pendiam. Selidik punya selidik, peri ketiga dan keempat menaruh hati pada Soo Ok, dengan kadar suka yang sulit dijabarkan. Tapi dalam film, Bom Shill tampak yang paling perhatian tapi sopan. Ia bahkan sempat berjanji untuk selalu melindungi Soo Ok selamanya. Pergerakan pemuda imut ini dalam menunjukkan cintanya untuk Soo Ok bisa bikin pemirsa meleleh. Di akhir film, kita akan tahu sebenarnya hati Soo Ok sudah dilabuhkan pada siapa.

Ketika kisah ala-ala ABG banyak bercerita tentang cinta yang berapi-api dan lebay, rupanya film ini tak mau berfokus ke sana. Justru yang ditekankan pada film ini adalah persahabatan yang sangat kental, nekad, norak dan tampak kentara rasa sayang yang keterlaluan, sehingga rasanya tak berlebihan jika saya menyebut empat ABG itu sebagai para perinya Soo Ok.

Menyaksikan film ini, ada sedikit perang batin di benak. Di satu sisi, saya sungguh iri dan sentimen dengan keberadaan Soo Ok yang sangat disayang. Betapa seharusnya ia bersyukur memiliki sahabat-sahabat dan seluruh warga kampung yang sayangnya kelewatan. Saya bahkan berpikir bahwa jalinan persahabatan itu jadi tidak wajar dan bisa menimbulkan penyakit. Bukankah kebanyakan gula juga bisa menyebabkan kolesterol?

Di sisi lain, rasa empati saya melulu muncul dan menggebu-gebu. Saya terbawa hanyut dalam romantisme persahabatan di antara mereka, terpesona pada ragam momen kebersamaan, pengorbanan dan keakraban yang terjalin, juga terharu dengan alur ceritanya yang maju mundur sehingga memancing air mata jatuh ketika ada tragedi yang harus mereka lalui di tengah kemesraan yang lama dijalin.

Tragedi macam apakah?

Siapa sangka, rasa sayang yang berlebihan dari semua orang membuat Soo Ok begitu bersyukur dan berbahagia sekaligus juga menjadi beban yang berat dan melelahkan. Dalam kebahagiaan yang manja itu, ia berpikir bagaimana caranya agar bisa sembuh dan melakukan operasi kaki. Di sisi lain, ada kedatangan dokter muda dari kota yang membuatnya sejenak yakin bahwa harapan itu bisa menjadi nyata.

Keinginan So Ok terus tumbuh seiring dia yang memang bercita-cita menjadi seorang DJ. Ia ingin terus bernyanyi dan memutar musik. Sebab dalam keyakinannya, musik dan lagu adalah benda-benda ajaib. Melalui musik, pesan-pesan bisa tersampaikan dengan baik meski tak berkaki dan bersayap. Melalui suara yang indah pula, segala perasaan mampu menjelajah tak terbatas ruang dan waktu.

Lantas tragedi macam apa? Dalam film, kalian akan tahu bahwa Soo Ok mengalami kesedihan mendalam karena peluang kesembuhan kakinya ternyata tertutup rapat. Ia yang sejak lama menanam harapan bisa berjalan normal agar tak lagi jadi beban para perinya kemudian merasa kecewa, lalu memutuskan untuk bunuh diri.

Ketika momen itu terjadi, lagi-lagi sentimen saya muncul. Betapa Soo Ok benar-benar berpikiran pendek dan berhati lemah sehingga membuat pemirsa miris dan kecewa. Dampak bunuh diri Soo Ok juga membuat jalinan persahabatan para peri jadi berantakan. Mereka bahkan sempat saling cakar dan pukul. Berkelahi.

Tapi rasa simpati saya rupanya jauh lebih mendominasi. Penceritaan, akting para pemain, sinematografi dan sudut pandang penceritaan membuat saya turut larut dalam momen berkabung, simpati, lantas memaklumi apa yang telah terjadi. Saya juga jadi memaklumi perilaku lebay para ABG yang tengah menjalani masa kritis di persahabatan mereka itu.

Karena momen pahit manis di masa muda itulah, kemudian mereka bisa  menjadikannya suatu kenangan indah dibarengi pembelajaran. Lantas ceritanya dibagikan dan "diinspirasikan" kepada segenap pemirsa di mana pun kita berada. Sungguh bagi saya, ini merupakan film yang diawali dengan kemesraan ala-ala ABG yang menggemaskan, ditengahi dengan tragedi dan segenap kekhawatiran, lalu diakhiri dengan perenungan yang melegakan melalui saluran radio.

Jangan khawatir! Dalam film kita tak melulu disuguhkan tentang kisah cinta dan persahabatan ala-ala ABG. Di sini visual pemirsa akan dipuaskan dengan gambaran lingkungan di perkampungan korea era 90-an. Prosesi nostalgia bagi orang zaman old juga akan sangat menyenangkan dengan menonton film ini. Sebab kita akan melihat lagi kaset-kaset, radio tape, serta perangkat teknologi ala-ala era 90-an yang klasik tapi asyik.

Jangan lupa menandai soundtrack filmnya yang indah dan super klasik, ya! Ada Dust in the Wind dari Kandas dan The Water is Wide dari Karla B. Jadulnya juara.

Ada pula sejenak wawasan tentang perilaku para orang tua yang bijak dalam memperlakukan ABG di masa itu, serta adat orang Korea dalam melakukam prosesi pemakaman. Gambaran-gambaran tersebut bisa menggemukkan wawasan sosial kita, bukan?

Jadi, mari jangan merasa cukup dengan membaca reviewnya saja. Segeralah tindaklanjuti pembacaan ini dengan menonton filmnya di waktu luang.

Akhir kata, ini film recommended yang bagus untuk menunjang kewarasan kids zaman now, serta bagus juga untuk orang zaman old dalam kepentingan parenting. Selamat mengapresiasi!

*Ucapan terima kasih secara khusus saya tujukan untuk teman-teman komunitas menulis maya yang menamakan dirinya "K.N.A". Karena dia, saya jadi tergerak untuk nulis review film ini. Terima kasih ya, requestnya.

Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "Hadirnya Sentimen Sekaligus Empati di Suatu Kisah Persahabatan ABG (Review Film Pure Love - 2016)"

Posting Komentar