Kita Adalah Rongsokan yang Butuh Didaur Ulang. Berupayalah!


Hei, kamu yang barusan mengaku-aku sedang buruk suasana hatinya, kemarilah sejenak. Kalau boleh saran, janganlah hanya berdiam diri di dalam kamar sembari mendengarkan lagu galau. Tahukah bahwa dinding yang mengelilingimu, serta lagu yang mendayu-dayu itu hanya akan membuat rasa sedih semakin betah bersemayam?

Maka marilah ke luar rumah! Ada aku yang setia menunggumu di taman. Aku telah menyiapkan kursi kayu yang nyaman untuk kamu duduk, serta juga menyiapkan telinga, agar kamu bisa bebas berkeluh kesah, bahkan kalau perlu, menyerapah. Dua telingaku harusnya cukup untuk menampung semua ceritamu, sehingga kamu tidak perlu lagi pamer kesedihan di media sosial.

Kemarilah dan kamu akan terkesima dengan angin yang sedari tadi berembus. Meski sudah jelang tengah hari, angin terasa segar—jika tak mau disebut dingin. Saking dinginnya, sang angin sanggup mendinginkan kepala, membawa pergi rasa penat. Meski begitu, jangan takut kedinginan karena di sini masih ada matahari yang sudi memberikan kehangatan, asalkan kamu mau menyambut sinarnya tanpa naungan.

Ayolah! Jangan keras kepala begitu. Keluarlah! Di sini juga ada secangkir teh dan pisang goreng yang masih hangat. Makanan ini akan membuatmu terbebas dari laper juga baper.

“Dasar cerewet!” katamu menggerutu, sembari beranjak keluar kamar. Aku lega, karena akhirnya kamumau ikut serta. Tanpa banyak cingcong kamu berjalan mendekat, duduk di kursi kayu, lalu minum teh dan makan pisang goreng.

Terima kasih karena mau mengikuti saranku. Meski wajahmu masih tertekuk, aku tetap senang karena setidaknya kamu tak bersedih dalam kondisi yang lapar dan kedinginan. Kuperhatikan, kamu sekarang mulai menatap langit yang biru di atas sana. Kamu pasti sedang terpesona dengan luasnya langit, lalu menginginkan hatimu juga lega seperti angkasa.

Barusan kamu bilang minder karena merasa tak cukup berguna setelah sekian lama tinggal di muka bumi. Kamu juga merasa buruk karena terus-menerus melakukan kesalahan, kemalasan dan kealpaan. Ketika kamu menyalahkan dirimu sendiri, orang-orang di sekitarmu juga ikut-ikutan menyalahkanmu. Kamu jadi merasa tambah buruk, tambah merasa bersalah, tak berharga, seperti sampah.

Aku bilang, ya, kamu memang melakukan banyak kesalahan belakangan ini. Kamu juga memang sedang dianggap sampah, baik oleh dirimu sendiri, oleh orang lain, juga mungkin oleh Tuhan. Tapi tahukah, bahwa manusia memang tempatnya salah dan lupa.

Itulah sebuah kewajaran, bahkan mungkin kodrat, karena kalau kamu tidak pernah salah, berarti kamu adalah malaikat. Tapi bukankah kamu juga bukan setan yang ditakdirkan untuk selalu “bersalah” dan mengajak manusia untuk melakukan kesalahan di sepanjang hidupnya? Karena manusia sering salah lalu menjadi sampah, bukan berarti kamu harus berhenti bertaubat lalu membusuk di tempat sampah.

Dengarkanlah baik-baik!

Kamu tidak perlu jadi minder berkepanjangan apalagi berputus asa sebab menjadi sampah. Bolehlah
kalau mau dirundung duka, tapi sejenak saja. Selebihnya, kamu harus menjelma sebagai rongsokan yang bergerak untuk didaur ulang. Serongsokan apapun dirimu, berupayalah untuk menjadi berguna. Kalau bungkus kopi saja bisa dirangkai jadi tas, daun kering bisa dirangkai jadi pajangan, serta ember bekas bisa jadi pot bunga. Bahkan makanan busuk pun bisa didaur ulang jadi pupuk. Kalau mereka bisa diupayakan berguna, kamu pun bisa lebih dari berharga jika sudi meluangkan waktu untuk berupaya mendaur ulang diri.

***

“Kenapa harus repot-repot daur ulang? Sekali jadi rongsokan, tetap saja rongsokan!” katamu ketus.

Jika begitu anggapanmu, mari dengarkan aku sedikit lagi.

Barusan aku bilang bahwa manusia adalah tempatnya salah, maka semua orang yang hidup pasti pernah jadi sampah, jadi rongsokan. Kamu jangan sombong dengan kesalahanmu, jangan pamer dengan kesampahanmu yang menyedihkan, karena kamu bukanlah satu-satunya rongsokan yang ada di muka bumi.

Aku, ibumu, bapakmu, teman-temanmu, orang-orang di sekitarmu, semua yang tergolong ke dalam jenis manusia adalah setara. Semuanya berpeluang jadi rongsokan! Jika mereka berpikiran sama sepertimu, menolak mendaur ulang diri, maka cerita dunia pasti dipenuhi penderitaan dan keputusasaan. Jika keadaan itu terus berlangsung, tidak akan ada lagi rasa saling peduli satu sama lain. Masing-masing dari kita akan sibuk saling memberi bau, penyakit dan polusi, saling memberi kotor, tidak punya waktu untuk saling memberi peduli, lalu kompak bunuh diri.

Untungnya keadaan itu tidak terjadi karena Tuhan memang tak pernah berputus asa memberi petunjuk pada manusia untuk melakukan upaya daur ulang diri. Semua manusia rongsokan diberi energi besar untuk mendaur ulang dirinya, demi kesehatan dunia, demi kelangsungan hidup umat manusia.

Maka terimalah fakta bahwa kita ini rongsokan. Tapi kita tetap diberi kesempatan untuk bertaubat, berdaur ulang, lalu menjadi sesuatu yang berguna, atas izin dari Tuhan.

Ketika kamu sudah berhasil melewati proses tersebut, mungkin kamulah yang nanti ada diposisiku, yakni menjadi seseorang yang mengajak orang lain yang tengah bersedih untuk keluar dari kamar yang sempit. Ketika kamu ada di posisiku kelak, kamu juga sudah menyiapkan teh hangat dan sepiring pisang goreng untuk dinikmati sambil berbincang tentang rongsokan dan daur ulang.

***

Kamu lantas terdiam dan membuatku lega. Rupanya sedari tadi kamu sudah memasang telinga, lalu mencerna kata-kataku ke dalam benak dan logikamu. Sekarang kamu tertunduk, berhenti membantah, bahkan mulai menangis. Pasti kamu sekarang sedang menyadari seberapa rongsokannya dirimu, lalu mulai berniat melakukan langkah daur ulang dengan segala daya dan upaya.

Terima kasih banyak.

Jika kamu masih ingin bersedih, bersedihlah!

Jika masih ingin menjadi rongsokan, menjadi rongsokanlah!

Setiap orang punya pertimbangan sendiri-sendiri untuk menetapkan kapan waktu yang tepat untuk berdaur ulang. Tapi semua orang juga tahu, bahwa sebaik-baiknya waktu untuk berdaur ulang adalah sekarang. Karena siapa yang tahu apa yang terjadi sedetik kemudian. Meski kamu senang berencana, tetap saja hidup diwarnai ragam kejutan. Maka bersegeralah!

Sekali lagi kuingatkan, kita ini adalah rongsokan yang mesti didaur ulang. Maka berupayalah!

Note:

Istilah “rongsokan” dan “Daur Ulang” dalam upaya perbaikan diri adalah hasil olah inspirasi dari ceramah Kiai Zezen Zainal Abidin (Almarhum) asal Sukabumi yang barusan saya dengarkan di Youtube. Dengan logat ala sunda yang agak blak-blakan, Kiai Zezen banyak mengusung tema tasawuf dan upaya perjalanan menuju Tuhan dalam setiap ceramahnya. Saya dapat banyak bahan pikiran dan perenungan dalam upaya “daur ulang” ketika mendengarkan ceramah-ceramah beliau. Terima kasih banyak.

Sumber Gambar: https://pixabay.com/id/domba-daur-ulang-wol-domba-hewan-1706055/

Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "Kita Adalah Rongsokan yang Butuh Didaur Ulang. Berupayalah!"

Posting Komentar