Mengapresiasi Sepotong Pagi


Pagi ini adalah prestasi, sebab saya tidak tidur pagi-pagi.

Mungkin menurut kalian semua, ini perilaku yang biasa. Ketika adzan shubuh berkumandang, atau mungkin dimulai sejak dini hari, orang-orang istimewa telah terjaga untuk memulai kegiatan ibadahnya. Itu menjadi hal biasa dan yang dinilai sangat ideal bagi kebanyakan orang.

Di sisi lain, saya pun tahu teori macam itu, hanya saja tidak diikuti dengan aksi nyata. Biasanya saya bangun setelah adzan shubuh, sejenak membaca buku atau Alquran untuk formalitas, setelah itu kamu bisa tebak sendiri apa yang aku lakukan. Ya, Tidur! Kegiatan yang selalu saya lakukan berulang-ulang, tapi juga saya sesali lagi-dan lagi.

Maka dari itulah pagi ini harus diapresiasi.

Pagi ini juga merupakan eksekusi atas ragam inspirasi. Segera saya membuka jendela, mempersilakan udara segar masuk sehingga dinginnya mencubit-cubit kulit. Untuk sekadar informasi, udara pagi adalah tentara-tentara gagah yang tangguh mengusir jin-jin kantuk agar minggat dari kelopak mata dan kepala. Kalau tidak percaya, silakan coba.

Kegiatan saya lanjutkan dengan melipat selimut, merapikan bantal dan guling, segera saya membuka laptop dan menyalakannya. Di luar rumah, dzikir kokok ayam bersahutan sehingga pagi jadi semarak. Inilah waktu yang tepat untuk mengeksekusi ragam inspirasi. Maksud saya, ada ide-ide menulis yang harus segera “diperangkap” agar mereka tak segera lenyap.

Maka dari itulah pagi ini harus diapresiasi.

Pagi ini juga adalah kebersamaan sejenak bersama kata-kata. Kebersamaan ini sunyi, tapi sangat meriah di dalam otak dan benak. Tiba-tiba saya memikirkan hal A, lalu B, lalu C dan seterusnya untuk jadi bahan menulis. Meski begitu, saya bukanlah seorang yang bisa menulis secara instan, di mana ketika dapat ide langsung bisa menulis bagus untuk dipublikasikan.

Saya lebih tepat disebut amatiran, yang harus menghabiskan waktu berjam-jam, kebanyakan menunda penyelesaian tulisan, makanya hari ini hanya bisa menuliskan daftar ide yang rencananya akan ditulis pagi ini, atau mungkin di lain waktu.

Semoga benar kata orang bijak, bahwa kelancaran aktivitas manusia bergantung pada bagaimana ia mengeksekusi pagi. Ketika kita melakukan hal yang benar di pagi hari, maka kemungkinan besar kita akan melewati hari dengan lancar dan bahagia di sepanjang hari.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana mengulang pagi prestasi ini besok, dan keesokan harinya
lagi, dan keesokan harinya lagi. Ketika kebertahanan dan konsistensi itu teruji, barulah saya bisa benar-benar mengapresiasi tak hanya pagi, tapi juga diri.

Akhir kata, selamat pagi! Jangan lupa sarapan sebelum melanjutkan aktivitas masing-masing!

Note:
Tulisan di atas merupakan tulisan lawas, tepatnya ditulis pada sekitar Juli 2018. Kala itu orang-orang menyebut saya “Pengangguran”, sebab dianggap hanya berdiam diri di rumah, tidak ada pekerjaan tetap yang menghasilkan gaji bulanan, jomblo, dan situasinya sungguh membuat diri merasa tidak berguna.

Jika boleh “membela diri”, sebenarnya saya tak hanya numpang makan dan tidur di rumah orang tua. Setelah mengundurkan diri sebagai pengajar di salah satu pesantren di daerah Cianjur, saya mengambil job paruh waktu sebagai penulis dan pembuat backlink di ragam website. Di sisi lain, saya juga jadi punya banyak luang untuk merawat dua blog kesayangan.

Tapi ya sudahlah. Siapa peduli?!

Di situasi tersebut, saya melakukan ragam pekerjaan rumah sebagaimana lazimnya pengangguran yang berkeliaran di rumah (membersihkan rumah, memasak, mencuci baju dan piring). Selebihnya, saya berusaha sekuat tenaga melawan keterpurukan dengan menulis, menulis, dan menulis setiap hari—suatu kegiatan yang memang saya sukai sejak lama.

Kegiatan ini lumayan membantu agar saya tak tenggelam dalam keputusasaan. Ia jadi semacam “pengalihan isu” agar saya tidak lupa mengapresiasi diri, seburuk apapun situasinya. Ia benar-benar jadi senjata utama agar saya tak memanjakan kesedihan dan perasaan tak berguna yang terus menggerayangi: Malas bergerak, melakukan pekerjaan-pekerjaan tak berguna semisal tidur di pagi hari, nonton film bajakan, melamun, menggalau, seperti mayat hidup.

Lantas mungkin sebagian dari kalian penasaran, adakah saat ini saya masih berada di situasi yang sama?

Waktu terus berjalan. Di tengah situasi yang menyedihkan sejak delapan bulan yang lalu, saya terus berdoa minta tolong kepada Tuhan, lalu mendawamkan sabar, sabar, dan sabar. Lalu saya tergerak “hijrah” (ah, adakah istilah ini terlampau elit? Maka saya beri tanda petik saja), dan ragam keajaiban yang membahagiakan mulai datang silih berganti.

Untuk detail soal peristiwa “hijrah” ini mungkin akan saya ceritakan di lain hari. Tapi pada intinya, saya telah belajar banyak soal pentingnya bertahan dan sabar, bahkan di situasi terburuk sekalipun. Pembelajaran ini tentunya akan terus berlanjut, sebab kita tak pernah tahu situasi buruk apa lagi yang akan menyapa di masa depan.

Sekian.

Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "Mengapresiasi Sepotong Pagi"

Posting Komentar