Pelajaran dari Kisah Menjemput Air


Sumur Bersejarah di Samping Rumah :)

Di mata saya, Ibu merupakan salah satu manusia istimewa, sebab ia tak pernah banyak berteori dan berceramah tentang kisah ideal menjalani hidup. Ibu lebih suka memberi pelajaran melalui contoh yang ditunjukkan dalam setiap gerak-gerik dan aksi nyata. Salah satu contoh terbaiknya adalah ketika kami harus menyelesaikan masalah penyediaan air untuk kebutuhan sehari-hari di rumah, belasan tahun yang lalu.

Ketika itu, sekitar 2001 kami sekeluarga harus pindah ke Bandung untuk hal yang tidak kami ketahui penyebabnya. Saat itu saya harus meninggalkan semua kehidupan dan teman-teman saya di Jakarta, dan menyambut kisah baru di kampung halaman ibu.

Dari uang hasil menjual rumah, ibu dan bapak membangun rumah yang baru di atas tanah warisan. Namun karena uangnya tidak cukup, rumah hanya terbangun setengah jalan. Orang-orang menyebutnya “rangkai” di mana bangunan hanya berupa tembok-tembok yang sudah berdiri, tapi belum ada kusen, pintu, jendela, dan aliran listrik. Lantai tempat berpijak pun kala itu masih tanah yang ditutup terpal.

Tapi rupanya ibu tak mau terus-menerus menumpang di rumah nenek yang berjarak hanya beberapa meter saja dari rumah “rangkai” kami. Ibu segera membawa keenam anak-anaknya, termasuk saya, untuk menempati rumah baru kami.

Segala kekurangan dan keterbatasan fasilitas rumah harus kami hadapi, tapi tak lantas membuat kami merasa sengsara. Ibu mengondisikan kehidupan yang tengah kami jalani saat ini sebagai hal yang wajar, tanpa keluhan, tanpa tangisan. Biasa-biasa saja.

Untuk menopang ekonomi keluarga, Ibu berjualan keripik singkong kecil-kecilan. Keripik singkong itu ia buat sendiri dan rasanya sangat enak. Keripik dijual dengan harga lima ratusan, dititipkan ke warung-warung. Ketika itu kami anak-anaknya membantu dengan riang sembari menyomoti keripik-keripik yang belum dikemas.

Sudah saya singgung di awal, bahwa kondisi rumah kami kala itu masih “rangkai” dan alakadarnya. Dinding masih berupa bata merah yang terangkai, sementara calon jendela dan pintu ditutup dengan triplek seadanya. Lantai rumah yang sesungguhnya masih tanah ditutup dengan terpal, sementara tempat tidur kami masih mengampar dengan tikar dan kasur yang kumal.

Untuk urusan instalasi listrik, kami kembali ke zaman kuno di masa kerajaan dulu. Di mana kami menggunakan alat penerangan berupa lampu tempel di malam hari, dan ketika siang kami mengandalkan pencahayaan dari sinar matahari.

Lantas bagaimana dengan urusan penyediaan air. Bukankah kami terbiasa menggunakan air dalam jumlah banyak untuk mendukung kegiatan sehari-hari? Nah, di rumah rangkai itu, kami punya satu kamar mandi yang dilengkapi dengan WC dan bak air, namun tidak ada sumber airnya.

Ibu sama sekali tidak memberi inspirasi kepada anak-anaknya untuk bergantung pada tetangga maupun saudara, meski mereka mengelilingi kami di kampung ini. Bisa saja kami setiap hari meumpang mandi di rumah Uwak dan Paman atau Bibi, tapi itu tidak diperbolehkan. Anak-anak Ibu harus mandi dan buang air di kamar mandi sendiri, kecuali kepepet.

Lantas apa yang kami lakukan? Untuk memenuhi kebutuhan air, ia mengangkut air dari sumur timba dekat masjid, katanya digali oleh kakek buyut, jaraknya sekitar 200 meter dari rumah. Tentu saja kami turut membantu bolak-balik mengisi bak dengan sistem estafet. Kami punya ember-ember bekas cat yang bisa menampung air hingga 30 liter, serta ember berukuran lebih kecil lainnya yang mampu membantu kami mengangkut air sekitar lima hingga 10 liter.

Kegiatan mengambil air biasanya ibu lakukan setiap pagi, lalu kami akan turut membantu sepulang sekolah, atau sore hari setelah mengaji di Pesantren milik yayasan keluarga besar. Kalau sedang rajin, kami mengangkut air di malam hari ketika kondisi luar sedang sepi.

Kalau kami rajin, air tentu saja melimpah di bak kamar mandi. Tapi keseringannya kami malas dan saling mengandalkan. Alhasil, kalau mau mandi atau buang air, barulah kami mendadak pergi ke sumur dan mengangkut air.

Terkadang rasanya melelahkan, tapi kami sama sekali tidak diberi contoh yang ideal untuk mengeluh atau merasa malu dengan kondisi tersebut. Kalau mengeluh, pasti dimarahi. Makanya, sering kali kami bersikap cuek dan menganggap keadaan ini sebagai hal yang wajar dan tak perlu didramatisasi.

Keadaan akan semakin sulit ketika musim kemarau tiba. Krisis air benar-benar kami rasakan, sehingga harus banyak berhemat. Sumur yang surut dan perebut dengan penduduk lain membuat saya sedikit merasa sedih. Terkadang saya tak mandi hingga dua hari karena memang air tidak tersedia di sumur masjid. Mungkin kalian pikir ini jorok. Tapi bukankah lebih baik tidak mandi, dari pada tidak ada air untuk berwudlu ataupun bersih-bersih selepas buang air?

***

Singkat cerita, kesabaran Ibu berbuah manis. Setelah sekitar tujuh tahun “menjemput” air bolak-balik dari sumur masjid, ibu punya modal untuk membuat sumur. Jika kamu bertanya uangnya dari mana, saya punya jawaban yang realistis dan wajar. Ibu tidak lagi menjual keripik singkong. Kesibukannya teralihkan karena ia dipercaya untuk jadi staf yayasan, jadinya punya penghasilan yang tetap tiap bulan, meski tidak besar.

Ibu pandai mengatur uang, menyediakan makanan sederhana, serta sangat jarang memberi uang jajan pada kami. Uang hasil kerja kerasnya lantas bisa digunakan untuk melanjutkan pembangunan rumah secara bertahap, memasang listrik, serta membuat solusi permanen penyediaan air yakni dengan menjemput air dari dalam tanah.

Ya, Ibu membuat sumur di samping rumah. Maksud saya, ibu membayar tetangga yang bersedia untuk menggali sumur di sana. Proses penggalian sumur memakan waktu berminggu-minggu dan akhirnya mata air ditemukan di kedalaman sembilan meter. Air menyapa, tersenyum pada kami yang menyambut dengan berbahagia. Perlahan tapi pasti, air naik ke permukaan, terkumpul, dan kami tak lagi harus bolak-balik ke sumur masjid untuk mengangkut air.

Begitu pula ketika kemarau tiba. Tak perlu lagi kami bersaing dengan tetangga yang menyerbu sumur masjid karena sumur-sumur di rumah mereka kering. Kami sudah punya sumur sendiri, bahkan ibu mempersilakan tetangga untuk mengambil air dari sana, jika ingin.

Sumur samping rumah kami makin terasa kebermanfaatannya sekitar setahun belakangan ini. Kami punya tetangga baru, dua keluarga, yang membangun rumah dekat sumur itu. Karena dua keluarga itu belum punya sumber air mandiri, maka mereka mengambil air dari sumur kami. Ibu mempersilakannya dengan sukarela, tidak bertarif, tidak juga pamer kebaikan.

Begitulah Ibu. Sabarnya luar biasa, baik ketika menghadapi kami, anak-anaknya, maupun ketika menghadapi keadaan-keadaan yang tampaknya tidak menyenangkan. Saya pribadi dapat banyak pelajaran dari kisah menjemput air ini.

Saya bersyukur karena tiba-tiba terpikirkan untuk menuliskan tentang sumur bersejarah ini. Mungkin ini disulut kemarau yang membuat kami semua selalu melirik ke arah sumur itu setiap hari. Utamanya kakak tertua saya, dia selalu rajin menyalakan pompa air di momen-momen ketika air sedang banyak, dan mencegah kami untuk menghambur-hamburkan air seenaknya.

Saya bersyukur pula, karena air di sumur selalu ada, meski tidak berlimpah. Makanya kami dituntut untuk hemat dan melakukan manajemen air secara disiplin. Dengan demikian, kebutuhan semua orang yang mengambil air dari sumur itu bisa tercukupi secara adil. Semoga.

Ini Emak dan Bapak
07072018

Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "Pelajaran dari Kisah Menjemput Air"

Posting Komentar