Lindungi Kids Jaman Now dari Kecanduan Gadget


Suatu sore, para keponakan yang lucu main ke rumah. Umur mereka di kisaran empat hingga delapan tahun. Area depan rumah berupa teras yang cukup luas kerap digunakan untuk berkumpul, dari mulai main kartu, ludo, catur dan permainan lainnya. Di depan rumah ada sebidang tanah kosong yang dipersiapkan untuk bangunan sekolah. Nah, lokasi tersebut juga jadi sasaran para bocah untuk bermain macam-macam.

Sesekali para keponakan yang imut-imut itu masuk ke dalam rumah untuk sekadar menyapa dan ingin diajak bermain. Kami tentu saja tak bisa menolak, meski terkadang enggan dan malas diganggu. Tapi ketika kondisi sedang santai dan mood sedang baik, pasti kedatangan mereka akan disambut untuk sekadar mengobrol ala-ala anak kecil, atau berbagi makanan dengan mereka.

Nah, untuk kunjungan sore ini, tersebutlah dua bocah main ke rumah. Ini mereka:

Namanya Elsyaf dan Nazil. Yang satu berusia tujuh, yang satu lagi berusia empat. Mereka kedapatan sedang mengintip saya yang sedang asyik di depan komputer. Saya pun memanggilnya masuk lalu bertanya basa-basi. “Sudah makan, belum? Sudah mandi atau belum?” lalu dijawab, “Sudah” padahal muka dan baju mereka dekil, mungkin habis main tanah. Hehe.

“Boleh pinjem hape?” kata salah seorang dari mereka, dan segera membuat saya sedikit kaget. Handphone saya memang sedang tergeletak di atas kasur.

“Aku mau main Varmin di situ,” kata yang lainnya sambil menunjuk ke komputer. Varmin adalah salah satu game online yang mereka gemari, yakni semacam tupai yang loncat-loncat melewati hambatan agar bisa menang.

Saya langsung termenung sejenak. Kids jaman now bukanlah kids zaman old—ya iya lah. Di mana mereka sudah sangat familiar dengan yang namanya gawai. Sangat berbeda dengan masa kecil saya, di mana barang semacam itu untuk anak kecil terasa sangat jauh dan mewah. Jadi, ketimbang main hape, kami lebih asyik main pasir atau dedaunan untuk jadi obyek main. Beda zaman memang beda fokus, sebab lingkungan yang memang memengaruhi.

Waktu kecil idola saya adalah Sherina dan Chikita Meidi. Tapi anak zaman now sudah mengenal Ikbal Ramadhan pemeran Dilan, juga tergila-gila sama Natasha Wilona. Ketika seumur mereka saya masih ingusan dan tidak peduli dengan penampilan, tapi anak zaman sekarang sudah berbedak dan punya pacar yang dipanggil ayah dan bunda.

Zaman dulu boro-boro saya terampil update status di media sosial, tapi kids jaman now sudah tau apa itu BL alias Boom Like, tahu juga bagaimana seni menggalau durja di dinding facebook. Peradaban berubah, budaya berganti. Di saat seperti ini saya jadi merasa sangat tua.

Kepada dua bocah yang minta main gadget itu, saya segera tersenyum dan menolak dengan cara halus. Lantas, saya mengambil buku dan dua pulpen, mengajak mereka main gambar-gambaran. Mereka pada awalnya tampak kecewa, tapi kemudian menikmati juga atraksi saya yang menggambar alakadarnya.

Kami menggambar secara random. Ada pohon, cicak, burung, rumah, mobil, sapu dan benda apa saja sekenanya. Lalu mereka minta menggambar sendiri, saya biarkan mereka bercerita, melakukan apa saja, asal jangan menyentuh hape saya. Hahaha…

Mengapa? Selain karena saya pelit, saya tidak rela kalau laptop dan handphone saya beresiko rusak setelah dipegang bocah. Saya juga tidak mau jadi bagian dari orang-orang yang memanjakan anak-anak dengan gawai, sehingga mereka jadi pasif dan kurang bergerak. Anak-anak seharusnya main di dunia nyata saja, tidak perlu terlalu akrab dengan teknologi kalau memang tidak ada unsur edukasi di dalamnya.

Nanti khawatirnya jika mereka sudah kecanduan gawai, mereka akan terus melotot di depan layar, matanya rusak, badannya bungkuk dan gempal, tapi mereka tidak dapat ilmu apa-apa selain kesenangan dari bermain game dan chatting absurd. Ah, apakah ini suatu kekhawatiran yang belebihan? Apakah tidak sebaiknya saya menyerah dengan kondisi sekarang sehingga anak-anak tidak disebut “ketinggalan zaman”?

Entahlah… Ya sudahlah, kalau diteruskan nanti jatohnya saya meremehkan fungsi gawai untuk anak-anak. Saya pasti terlalu konservatif dan pelit saja. Hahaha..

Jadi, apakah kita harus bekerja sama? Apakah Anda dan saya nantinya akan menerima ajakan untuk melindungi Kids Jaman Now dari Ketergantungan Gadget. Lantas bagaimana cara melindunginya. Lantas apakah kita akan benar-benar mampu?

*Tulisan ini dibuat ketika saya masih single, di awal 2018.

Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "Lindungi Kids Jaman Now dari Kecanduan Gadget"

Posting Komentar