DEAR NATA - Catatan Perdana



Dear, Nata…

Adakah sebuah tulisan tanpa permulaan?

Sepertinya tidak, sebab pertanyaan di atas nyatanya sebuah permulaan yang bingung.

Begitulah yang ibu rasakan ketika pertama kali ingin merangkai kata-kata di sini. Bingung. Harus dengan rangkaian kata macam apa ibu memulainya? Jika harus melakukan pembelaan, mungkin ini disebabkan ibu yang sudah lama sekali tidak menulis sembari berkontemplasi. Bahkan blog pun sudah lama tak disinggahi tulisan baru. Ibu memang bukan orang yang berdisiplin dalam menulis sebab terlalu banyak melamun, lalu salah fokus.

Alasan selanjutnya, mungkin ibu agak canggung mengekspresikan cinta kepada seseorang yang sama sekali belum pernah ditemui. Kamu masih beberapa bulan lagi diprediksi lahir ke dunia. Semoga jalannya lancar dan selamat, sebagaimana yang diharapkan.

Selebihnya, Ibu sudah sekian lama membiarkan diri larut dalam rutinitas kerja sebagai penulis lepas di tiga perusahaan jasa kepenulisan. (Pamer, hahaha) Ibu juga telanjur anteng menjalani rutinitas sebagai ibu rumah tangga di bawah kepemimpinan Kapten Kamil, serta juga bantu-bantu mengajar di SMP dekat kontrakan. 

Ketika ibu menuliskan ini, kondisi sore terasa damai dan mendung. Kamu masih sibuk bergerak-gerak di dalam perut. Terkadang gerakanmu kuat, terkadang juga santai. Entah apa yang kamu lakukan di dalam sana, Dek. Di usia kandungan tujuh bulan, kamu yang intens bergerak membuat ibu tergerak untuk menuliskan sesuatu untukmu. Eksklusif! Sebab bagi ibu, kamulah teristimewa.

Lantas mungkin kamu bertanya, bukankah semua anak itu istimewa di benak ibu dan bapaknya?

Ya, kamu benar.

Kebanyakan ibu pastinya selalu menganggap anaknyalah yang paling baik dan sempurna. Terlebih ketika ini adalah pengalaman pertama mereka menjadi ibu. Terlepas dari sang ibu menuliskannya atau tidak, mengutarakannya secara tersirat maupun tersurat, rasa sayang pada anaknya pasti akan tersampaikan dengan cara-cara yang eksklusif.

Dan beginilah salah satu cara ibu menyampaikan, betapa bahagianya ibu mendapat titipan seorang Nata. Meski ketika ibu menuliskan ini, kita sama sekali belum berjumpa, rasa cinta ini sudah terasa penuh di dada. Semoga Allah selalu mengendalikan hati ibu, agar tidak mencintai kamu secara berlebihan.

Entah kapan kamu akan membaca tulisan ini. Tapi ketika hari itu tiba, ibu ingin kamu mengerti bahwa seorang Nata adalah anak yang berharga. Ibu tak tahu akan menjadi seperti apa kamu di masa depan. Tapi bagaimana pun kondisinya, kamu akan selalu jadi anak ibu yang teristimewa, sebab berani, penuh percaya diri, serta mandiri.

Doakan ibu dan ayah, semoga tak banyak menuntutmu macam-macam. Kami ingin membiarkanmu tumbuh dengan caramu sendiri, dengan tekad, bakat dan kemampuan yang hanya kamu sendiri yang akan mengerti. Tentu saja bukan berarti kami akan membiarkanmu sepenuhnya. Izinkan Ibu dan Ayah untuk mengarahkanmu seperlunya, semampunya. Semoga kita bisa terus bekerja sama!

Ah, ketika menuliskan ini, rasanya ibu seperti akan panjang umur saja. Rasanya ingin sekali terus bertahan hidup hingga kamu lahir, lalu tumbuh besar. Semoga perasaan dan keinginan ini didukung Tuhan. Semoga kamu juga bisa lahir dengan selamat, sehat dan sempurna, lalu melanjutkan hidup di alam dunia dengan gagah berani. Semoga pula Ayah Kamil selalu diberi kekuatan dan kesehatan, baik fisik maupun mentalnya, dalam menggiring keluarga ini menuju jalan yang diridhoi Allah. Semoga keluarga kecil Ayah Nata ini, selalu terlindung dan dalam kondisi sehat walafiat.

Mengapa namamu Nata?

Ini adalah hasil pemikiran panjang dari Ayah Kamil, ketika kami sedang dilanda pertengkaran di usia tiga bulan kandungan. Ada-ada saja yang kami ributkan. Tapi sejujurnya, ibu lupa apa itu tepatnya. Yang jelas saat itu ibu jadi malas bicara apalagi bertanya pada Ayah, begitu pula sebaliknya.

Beruntunglah, kapten kita itu punya hati yang luas. Di segala pertengkaran, Ayah Kamil yang selalu meminta maaf duluan, mendatangi ibu, lalu mengupayakan agar pertengkaran itu segera disudahi. Ketika suasana sudah membaik, beliau dengan percaya diti menyebut nama “Nata Jiwa” untuk jabang bayi di kandungan. Itu nama untukmu, dan nama itu segera dapat ACC dari ibu.

Ibu tak tahu, apa yang ada di benak Ayah hingga akhirnya tercetuskan nama itu. Tapi bagi ibu, nama itu terdengar unik, klasik dan klik. Ibu juga tak tahu, kamu suka atau tidak. Tapi seorang anak memang tidak pernah punya pilihan untuk dinamai siapa, bukan? Seperti juga ia tak punya pilihan untuk bertapa di Rahim siapa, dan punya ayah dan keluarga seperti apa. Makanya, terima saja, lantas perbanyak syukur, sebab namamu pastinya diiringi dengan segenap doa dan harapan baik dari kami berdua. 

Dalam pengertian ibu, Nata, ialah menata, membuatnya rapi, tertata, ditempatkan dengan adil, sebagaimana mestinya. Sementara jiwa, ialah sesuatu yang menjadi pengendali diri. Entah kamu terbungkus dalam jasad dan rupa seperti apa, jiwalah yang menjadi penentu kualitas dirimu dihadapan Tuhan, maupun di hadapan makhluk lainnya di bumi ini.

Jadi ketika jiwamu tertata, mungkin inilah sebetulnya kunci kebahagiaan hidup di dunia dan alam kemudian. Semoga dengan menyandang nama ini, kamu akan selalu berbahagia dalam situasi apa saja. Sebab jiwamu selalu diupayakan tertata. Amin.

Sampai di sini dulu tulisan perdana untukmu. Mungkin nanti ada tulisan selanjutnya. Nantikan saja!

Dusun Katomas, Pagaden, Subang. 26 November 2019
Ibu sebesar ini waktu kamu masih di dalam perut.




Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "DEAR NATA - Catatan Perdana"

Posting Komentar