DEAR NATA - Kisah Bayi 40 Hari Dikhitan



Dear Nata...

Belum selesai kesakitanmu melewati proses masuk alam dunia, beradaptasi dengan lingkungan asing, serta mendukung ibu berjuang memberi ASI. Di usia ke 40 hari, kamu harus merasakan kesakitan selanjutnya, yakni di khitan. Namun sebelum ibu bercerita lebih lanjut tentang prosesi sunatnya Nata, ibu ingin sejenak mengingat-ingat apa yang telah terjadi selama 40 hari ke belakang.

Semenjak kamu lahir, Mak Entang, ibu paraji yang solehah, selalu datang setiap pagi. Beliau bertugas memandikanmu sampai puput tali pusar yang rupanya terjadi pada hari ke-11. Ketika sedang dimandikan, kamu selalu tampak pasrah dalam kondisi ringkih, mungil dan kulit yang masih merah. Selama dibantu paraji mengurusmu, tak banyak aktivitas yang ibu lakukan selain duduk, tidur, makan, ke kamar mandi seperlunya, lalu selebihnya ibu menjaga dan menyusuimu sepanjang hari.

Jujur saja, ini adalah kegiatan yang super melelahkan sekaligus membosankan. Terlebih ibu juga masih dalam tahap pemulihan setelah melahirkan. Tapi lagi-lagi wajahmu selalu menjadi pengobat capek. Ini pasti merupakan keajaiban lainnya dari memiliki seorang bayi. Di mana kita jadi punya pasokan energi yang berlimpah sehingga dimampukan untuk menjaga Sang Buah Hati.

Kata orang, bayi masih menyatu dengan ibunya. Jika bayi senang, itu karena sang ibu yang juga tenang. Begitu pula sebaliknya. Jika ibu pusing dan stress, itulah penyebab terbesar dari rewelnya bayi. Maka sebisa mungkin ibu berusaha untuk selalu tenang dan sabar. Meski tak semua keadaan sesuai dengan keinginan. Meski tak sedikit harapan-harapan untuk orang sekitar yang tak terwujudkan.

Bersamamu, ibu belajar untuk menjadi kuat dan mandiri, serta tak banyak berharap bantuan orang lain. Apalagi setelah tali pusarmu akhirnya puput, ibu dan ayah benar-benar harus mandiri dalam merawat dan menjagamu agar selalu sehat dan selamat.

Meski telah lelah bekerja, Ayah masih sudi mencuci baju kita, menyediakan makanan dan minuman, serta membantu menjagamu sehingga ibu bisa makan dan mandi dengan tenang. Nenek juga selalu datang membantu sehingga ibu bisa tenang mengurusmu.

Setelah prosesi melekan usai, tak lagi banyak yang datang. Hanya beberapa tetangga dekat yang masih mau peduli membantu menggendongmu atau mengganti popokmu. Meski tampak sepele, bantuan itu sangat berarti buat ibu. Salah satu yang intens membantu ibu menjagamu adalah Emak Kacih.

Rumahnya tepat di sebelah kiri dari kontrakan kita, hanya terhalang satu rumah saja. Ia tak hanya membantu menjagamu sehingga ibu bisa melakukan aktivitas lainnya, tapi dia juga memandikan dan ikut memberikan sayang yang melimpah padamu secara cuma-cuma. Mari sama-sama berterima kasih padanya.

Dalam masa hidup 40 hari, kamu bukanlah termasuk bayi yang rewel. Kamu hanya menangis pelan untuk memberitahukan perut yang lapar atau popok yang basah. Selebihnya, kamu sangat sangat anteng. Hampir seluruh hari dihabiskan dengan tidur. Saking antengnya, tetangga bahkan terheran-heran karena tidak pernah terdengar tangis bayi di kontrakan kita. Hanya saja, kamu sering sulit tidur di malam hari. Kamu selalu mengajak ibu bergadang sampai pagi. Tapi tak mengapalah. Yang penting kamu cukup makan, cukup tidur, sehat dan selamat, itu sudah lebih dari cukup.

Nata lantas diagendakan untuk sunat di hari ke 40 pada pagi hari, lalu sore harinya melaksanakan syukuran kelahiran plus gunting rambut. Rencanamu yang ingin disunat ketika bayi sempat ditentang oleh nenek dari Bandung. Alasannya "Kasihan". Ya, pastinya ibu pun kasihan. Tapi melihat pengalaman para anak tetangga, mereka pun disunat ketika bayi. Ibu makin tertarik karena proses penyembuhannya lebih cepat dan mengurusnya pun tidak repot. Jadi, ibu dan ayah pun memberanikan diri untuk setuju kamu disunat ketika bayi.

Ibu yang jadi saksi sekaligus penjaga ketika kamu disunat. Tangismu pecah dan keras ketika domter menyuntikkan obat kebal, membuat ibu jadi panik. Tapi ketika pemotongan dilakukan, kamu tampak tenang. Darah yang keluar pun tidak banyak. Setelah dipotong kamu segera dijahit dan selesailah prosesi menegangkan itu.

Sepanjang jalan pulang, kamu sama sekali tak menangis. Hanya wajah dan badanmu tampak lesu. Mungkin lelah karena telah melewati proses menyakitkan itu. Tak apalah, Nata. Bukankah kamu anak ibu yang kuat dan tabah?

Dan benar saja. Sebagaimana yang diceritakan orang-orang, kondisimu benar-benar pulih hanya dalam jangka waktu tiga hari saja. Kamu bahkan tidak menangis ketika pipis atau buang air besar. Mak Kacih banyak membantu merawat luka pasca disunat. Dokter memang memberi obat, tapi kami mendukungnya dengan cara tradisional. Lukamu ditetesi cairan bekicot dan ditutup daun sirih. Alhamdulillah, momen khitan ini pun terlewati dengan sedikit resah.

Sekian dulu kisah hari ini. Pada intinya, ibu bangga pada Nata yang sudah berani berjuang melawan berbagai rasa sakit tanpa banyak menangis apalagi mengamuk. Sebagai anak yang sabar, Nata telah mengajari ayah dan ibu agar juga bisa tangguh menghadapi tantangan dunia. Terima kasih, Nata Jiwa Kafi...

Subang, 6 Maret 2020

Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "DEAR NATA - Kisah Bayi 40 Hari Dikhitan"

Posting Komentar