DEAR NATA - "Melekan" Bikin Belekan



Dear Nata…

Kamu tak dibawa pulang segera setelah dilahirkan. Ibu harus menginap di kamar pasien karena tekanan darahnya tinggi. Ini pasti efek stress campur kelelahan yang terlalu. Memang susah payahlah melahirkan seorang bayi manusia. Maka begitu tercelanya manusia dewasa yang membuat susah kaum ibu. Di bidan, banyak saudara-saudara Ayah yang menemani. Kakek dan nenek dari Bandung juga datang menjengukmu. Mereka sepertinya senang akan kehadiranmu.

Sepanjang malam ibu tak bisa tidur. Kamu tampak tidak nyaman dan kegerahan. Kala itu memang banyak nyamuk dan suhu ruangannya terasa panas. Ibu seharusnya istirahat untuk memulihkan kondisi tubuh. Tapi rasa lelah ibu hilang karena terlalu semangat menjagamu. Kamu harus selalu di dekat ibu.

Lantas malam yang melelahkan itu terlewati dan akhirnya keesokan paginya kita pulang ke rumah. Kamu disambut lagi, oleh para tetangga dan saudara. Seharian rumah ramai. Pada hari selanjutnya, setiap pagi dan sore selalu ada yang datang menjenguk. Malam hari pun tak kalah ramai. Ada sejumlah saudara yang menginap untuk merealisasikan tradisi melekan.

Apa itu melekan? Dalam pemahaman ibu, melekan adalah tradisi begadang untuk penjagaan dari marabahaya. Bayi yang baru lahir tak boleh ditinggal tidur. Harus ada yang melek alias bergadang untuk menjaga bayi hingga matahari pagi bersinar lagi esok harinya. Alhasil, rumah kontrakan kita jadi penuh, banyak orang tidur bergelimpangan, berisik, gerah, dan ini sungguh tidak nyaman.

Bukannya ibu tak berterima kasih dengan kepedulian para saudara dan tetangga. Tapi ibu benar-benar butuh ketenangan. Tapi yang ibu dapati hanyalah keramaian dan sejumlah komentar memusingkan tentang apa yang harus dan tak harus ibu lakukan. Termasuk dalam hal menyusui. Urusan yang satu ini benar-benar butuh perjuangan hingga akhirnya ibu punya air susu untuk bekal kamu di keseharian.

Untunglah, sebagai pribumi, ayah pun tak terlalu mendukung tradisi melekan diberlakukan di keluarga kami. Ia menyuguhkan peserta melekan semampunya. Ia juga tidak memaksakan diri untuk ngaliwet, potong bebek, masak-masak yang memang butuh banyak biaya. Bukannya pelit, tapi pada intinya kami tak mau memaksakan diri.

Karena sikap itu, perlahan peserta melekan berkurang, semakin berkurang, lalu hilang sama sekali. Bahkan ibu dan bapak mertua pun ikut mundur karena mereka memang harus mengurus panen di sawah. Akhirnya yang tersisa hanyalah ibu, ayah, dan Nata saja, dalam ketenangan dan kedamaian yang sungguh menyenangkan.

Beginilah kami sebagai orang tua, Nata. Mungkin seiring waktu, kamu akan mendapati kami yang sikapnya agak berbeda dari orang kebanyakan. Kami tak terlalu suka ikut-ikutan. Ketimbang ikut nimbrung dalam sejumlah perkumpulan, kami lebih suka di rumah atau menyibukkan diri dengan bekerja.

Atas sikap kami, mohonlah dimengerti. Bukannya tak ingin sama seperti orang kebanyakan. Kami hanya ingin menjalani hidup dengan nyaman dan selamat. Jadi, mengapa harus memaksakan diri untuk senyum orang lain ketika hati berontak?

28032020

Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "DEAR NATA - "Melekan" Bikin Belekan "

Posting Komentar