DEAR NATA - (Ketika) Nata (Lahir di Tahun) Corona



Dear Nata...
Ketika Nata lahir di tahun Corona, apakah kepanjangan namamu harus ibu ganti saja menjadi "Nata Jiwa Corona"?

Apa dan siapa Corona? Mungkin kamu akan bertanya-tanya beberapa tahun kemudian, ketika kamu membaca tulisan ini--semoga Nata diberi umur panjang dan menjadi anak yang pintar, lalu sudi meluangkan waktu untuk sejenak membaca tulisan-tulisan ibu ketika senggang.

Corona adalah suatu virus yang saat ini menjadi pandemik di sejumlah belahan dunia, termasuk di negara kita tercinta, Indonesia. Awal kemunculannya dari Wuhan, Cina, lalu menyebar ke mana-mana. Jujur, ketika virus ini mulai ramai dibicarakan, ibu termasuk golongan orang yang apatis. Ibu pikir ini tidak separah yang diberitakan, pun hanya sebuah drama politik internasional yang membosankan--korban teori konspirasi, dududu.

Ibu, seperti biasa, hanya fokus padamu dan keluarga kecil kita, pada orderan-orderan menulis yang terburu deadline, serta pada hal remeh-temeh tapi menyenangkan yang lainnya.

Tapi ternyata Corona atau disebut juga COVID 19 itu fakta adanya. Makin ke sini mereka malah makin unjuk gigi. Hingga tulisan ini dibuat, yakni ketika usiamu masuk 2,5 bulan, Sakadang Corona masih bergentayangan di udara serta penyebarannya terus dipantau. Ia curi-curi kesempatan untuk makan korban, membidik yang ceroboh dan imunnya lemah. Atas peredarannya yang tak terkendali, kebanyakan manusia menjadi gelisah dan takut. Kita semua diimbau untuk saling menjaga jarak. Bersembunyi sejenak.

Tagar #DiRumahAja terus digaungkan di sejumlah media baik yang konvensional maupun dalam jaringan maya. Terutama di area yang sudah ditandai "zona merah" maupun yang tak berlabel seperti di kawasan perkampungan, orang-orang tak boleh berkumpul untuk mengadakan pertemuan penting, apalagi jika hanya untuk pesta dan bersenda gurau. Polisi makin galak memantau pergerakan orang. Jangan sampai ada yang kelayapan sembarangan. Di sejumlah tempat, upaya kreatif bahkan digerakkan, di mana para pocong dan kuntilanak samaran pun diturunkan untuk membuat orang enggan keluyuran malam-malam.

Meski daerah kita belum kemasukan Sakadang Corona, semua masyarakat diimbau untuk kompak melakukan pencegahan. Makanya, sekolah diliburkan. Ibu pun jadi sangat puas menjagamu siang dan malam tanpa harus diselang oleh jadwal mengajar di sekolah. Ketika kamu selesai dikhitan dan digunting rambutnya di usia 40 hari, ibu padahal sudah berencana untuk kembali mengajar di sekolah. Ibu bahkan sudah ancang-ancang menitipkanmu pada Bi Kacih ketika ibu mengajar. Tapi takdir berkata lain. Masa cuti ibu jadi sangat panjang karena ada Sakadang Corona.

Murid-murid di segala tingkat diinstruksikan untuk belajar di rumah. Penugasan dari guru serta interaksi lainnya dilakukan lewat grup WhatsApp. Ujian Nasional ditiadakan. Ujian sekolah pun senasib dengan UN. Begitulah serunya Coroa. Dampaknya merambah multisektor. Belum lagi kasus PHK yang membeludak, penganggurn meningkat, ekonomi sulit, orang kelaparan menjerit. Sungguh keberadaan Sakadang Corona tak bisa disikapi dengan sederhana.

Tak cuma sekolah yang libur, macam-macam pengajian dibubarkan sejenak, Shalat Jumat ditiadakan, dan macam-macam perkumpulan pun dilenyapkan dulu, hingga badai Corona berlalu di waktu yang belum bisa ditentukan. Jelang ramadhan, kita bahkan diwanti-wanti untuk tidak melakukan tarawih berjamaah, buka bersama, atau keluar bergerombol untuk membangunkan sahur.

Kita semua diminta pakai masker dan mencuci tangan jika harus beraktivitas di luas. Kita harus punya perbekalan makanan yang cukup agar mengurangi aktivitas ke luar rumah. Kita tidak boleh pulang kampung ataupun menerima pendatang. Pada intinya, kita harus saling menjaga dengan mengurangi interaksi satu sama lain. Jaga jarak, semoga selamat.

Bisa dikatakan, ini adalah tahun perdana kehidupan Nata ketika dunia dilingkupi sepi dan hampa serta berbalut gelisah yang hambar. Apakah kamu merasakan semua kekacauan ini?

Semoga saja tidak. Di usiamu yang masih sedemikian belia, semoga kamu belum banyak memperhatikan kerungsingan dunia. Dalam sangkaan ibu, kamu masih sangat sederhana, bersih, tanpa dosa dan menyenangkan. Tenanglah, Nata... meski sepi dunia, ibu akan berusaha untuk selalu ada dan membuat duniamu selalu ceria. Dalam hal ini, Sang Maha Kuat banyak membantu ibu memberi tenaga ekstra.

Lagi pula, sebelum dan setelah ada Sakadang Corona, kita memang sudah lama hobi di rumah saja, bukan? Profesi penulis memang membuat ibu tidak banyak berinteraksi dengan manusia, kecuali sekedarnya. Jadi, kita tidak perlu risau berlerlebihan akan dunia. Biarlah semua terjadi apa adanya, biarkan pula semua berlalu dengan sendirinya.

Hari tak selamanya gelap didekap malam. Akan tiba masanya ketika fajar datang dan menerangi semesta. Mudah-mudahan Sakadang Corona enggan main ke kampung kita, serta cepat pergi dari jagat raya. Semoga yang sakit kembali sehat, yang sepi kembali ramai, yang sulit kembali mudah. Semoga kita semua pandai mengambil hikmah dari setiap peristiwa.

Jadi, apakah kepanjangan namamu harus ibu ganti saja menjadi "Nata Corona"?

Tentu saja tidak. Ibu hanya bercanda. Hehehe. Yang pasti, kejadian ini merupakan sejarah kelam yang seharusnya bisa menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja.

Akhir kata, sekian dulu cerita hari ini. Semoga kamu sehat dan soleh selalu.

Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "DEAR NATA - (Ketika) Nata (Lahir di Tahun) Corona"

Posting Komentar