DEAR NATA - Nata Sakit


Dear Nata...

Sekarang barulah terasa bagaimana galaunya ketika belahan jiwa menderita, kita pun ikut merana. Ini ibu rasakan ketika kamu sakit. Di usia memasuki dua bulan, badanmu panas melebihi batas normal sehingga pergerakanmu jadi lemas. Kamu tidak semangat menyusu, atau beraktivitas yang lainnya. Melihat situasimu, Ayah tak kalah galau. Ia pergi ke Apotek malam-malam saat hujan turun deras. Tujuannya membeli termometer dan paracetamol.

Ah, Nata... padahal kamu baru pulih dari dikhitan, kesakitan lainnya menyusul datang. Tapi menghadapi kesakitan ini, mengapa kamu begitu baik? Saat sakit begini kamu sama sekali tidak menangis. Mengapa kamu begitu menurut untuk minum ASI setiap kali ditawarkan? Sehingga kamu pun segera pulih pada keesokan harinya.

Beberapa hari kemudian, esakitan selanjutnya datang. Kamu sulit BAB dan sesak napas karena sedang batuk pilek. Di situasi ini, kamu menangis tak berhenti-berhenti sejak ashar hingga isya. Para tetangga jadi khawatir, lalu mengundang "dukun" untuk memberimu mantra penyembuh. Tapi ketika "didoakan", tangismu malah semakin keras. Meski sudah diberi air doa pun, kamu tetap nelangsa.

Ibu memang sejak awal tak setuju kamu diobati dengan cara jampe-jampe seperti itu. Bukan bermaksud menyepelekan, tapi ibu memang tak beriman dengan hal-hal semacam itu. Tapi tentu saja ibu menghormati si ibu "dukun". Ibu tetap memberi uang terima kasih.

Lalu ibu paraji datang. Memijatmu dengan terampil. Ia menepis anggapan orang-orang bahwa kamu "ticengklak". Seperti yang ibu sangka, Nata sesak nafas dan susah BAB. Ketika dipijat, kamu buang angin dan sepertinya sesak itu berkurang. Kamu tak lagi menangis, hanya saja kelelahan. Ibu lantas diajari cara memijat punggungmu jika situasi semacam ini terulang lagi lain hari.

Sebagaimana telah diceritakan di atas, kamu menangis hingga isya. Itu karena kamu memang sedang mulas, tapi kotoran tak kunjung keluar. Begitu sulitnyakah menjadi bayi? Menangis jadi satu-satunya bahasamu sehingga kamu semakin menderita dalam kesakitan.

Syukurlah, setelah dipeluk, digendong dan sesekali dipijat bergantian dengan ayah dan Nenek Iyen, pada jam 11 malam BAB-mu keluar. Banyak betul. Setelahnya, kamu segera tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Ayah dan ibu lega. Kamu lantas tidur nyenyak setelahnya.

Untuk ke depannya, mungkin akan ada sakit-sakit selanjutnya yang kamu rasa. Mungkin ibu tidak akan selalu menuliskannya lagi seperti sakit saat ini. Tapi ketika hal itu terjadi, ibu harap kamu kuat dan sabar. Sakit adalah salah satu kewajaran hidup yang harus diterima. Ia bahkan kabarnya merupakan bentuk sayangnya Tuhan pada makhluknya.

Dengan kasih sayang ibu, ayah, kakek, nenek dan semua orang baik di sekelilingmu, selalulah bersemangat untuk hidup. Kebahagiaanmu adalah imbalan untuk kami yang telah menjagamu dalam kondisi senang maupun susah.

Sekian.

15052020

Untuk berlangganan 'Artikel Terbaru Via E-mail', silahkan masukan e-mail anda di bawah ini :

0 Response to "DEAR NATA - Nata Sakit"

Posting Komentar